Jumat, 22 Mei 2015

"Abah Udju Sang Pustakawan Keliling"



Tulisan ini merupakan sebuah kutipan langsung dari artikel berjudul "Abah Udju, Pustakawan Keliling dari Desa Gunung Hejo" [1] yang mengisahkan perjuangan seorang lelaki tua berusia 63 tahun bernama Djudju Djunaedi atau lebih dikenal sebagai Abah Udju yang merupakan pustakawan keliling dengan kisah hidup perjuanganya yang sangat mengispirasi dalam upaya mencerdaskan kehidupan generasi muda Indonesia, khususnya anak-anak di kecamatan Darangdan, kabupaten Purwakarta. Berbagai dokumentasi baik gambar maupun video yang terdapat dalam tulisan ini diperoleh dari berbagai sumber baik media massa, youtube dan beberapa blog yang terinspirasi dari perjuangan luar biasa seorang Abah Udju sang Pustakawan Keliling kebanggan masyarakat Purwakarta. Selamat membaca!

 

           
Pustakawan Keliling Bernama Abah Udju
Dengan tas gendong usang di punggungnya, seorang lelaki tua berjalan menyusuri Desa Gunung Hejo, Darangdan, Purwakarta. Di sebuah rumah dia berhenti. Di saat yang sama, beberapa anak yang sejak tadi bermain menyambut pria tersebut. Seperti ada yang mereka tunggu. Tas usang tadi kemudian diturunkan ke lantai. Apa isi tas usang itu? Buku dan majalah! Setelah buku di tata, anak-anak itu memilih dengan antusias. Begitu buku didapat, anak-anak itu membaca penuh semangat. Beberapa ibu juga terlihat ikut mengerubutinya.

Lelaki yang membawa tas usang berisi puluhan buku itu adalah Djudju Djunaedi (63). Tanpa digaji, tanpa pamrih, tanpa lelah dan tanpa bernaung dalam lembaga tertentu, Djudju Djunaedi telah mencerdaskan bangsa! Setiap hari, pria bersahaja yang akrab disapa Abah Udju itu berjalan dari satu desa ke desa lain untuk mencari pembaca buku-buku koleksinya. Rata-rata dia menjelajahi 6 desa yang kalau dihitung bisa mencapai 15 hingga 20 km. Jarak itu ditempuh dengan jalan kaki. Untuk menarik perhatian masyarakat, Abah selalu membawa seruling bambu. Seruling itu akan dimainkan ketika ada warga membaca. ”Sekalian mengenalkan budaya Sunda,” ujar Abah. Sudah lebih dari 20 tahun Abah Udju jadi pustakawan keliling.

Perpustakaan Mini “Saba Desa
Selain menjadi perpustakaan keliling, Abah pun membuka perpustakaan mini di rumahnya yang diberi nama Saba Desa. ”Saba artinya berkunjung dalam bahasa Sunda,” terang Abah dengan logat Sunda yang kental. Abah mulai rajin mengumpulkan buku dan majalah sejak sejak tahun 1984. Awalnya buku dan majalah itu milik sendiri dan juga buku bekas pelajaran anak-anaknya. Perlahan tapi pasti, buku koleksi Saba Desa main bertambah seiring dengan kegigihan Abah Udju berkeliling desa.

Buku koleksi Abah Udju sudah cukup banyak dengan berbagai judul. ”Alhamdulillah koleksi buku dan majalah di perpustakaan ini bertambah. Sebagian ada donatur yang membawakan buku-buku ke sini,” ujar warga Desa Gunung Hejo RT 10/03, Darangdan, Purwakarta ini. Buku-buku koleksi Abah Udju tertata di ruang tamu berukuran 2,5 x 2,5 meter. Abah Udju menyebut ruangan itu sebagai perpustakaan mini. ”Inilah perpustakaan mini milik Abah yang bisa dipergunakan oleh masyarakat umum,” tutur Abah.

Suka Membaca
Abah mulai merintis mendirikan perpustakaan sejak tahun 1984. Kebetulan dia suka membaca. Demikian juga dengan dua putranya, Edi Rahman (33) dan Dede Firman (23). Abah yang saat itu bekerja di perkebunan coklat tak bisa mengelak dari permintaan putranya. Apalagi setiap hari putranya meminta dibuatkan gambar. Merasa waktu kerjanya terganggu, Abah kemudian membeli sebuah majalah anak-anak untuk putranya itu. ”Daripada harus menggambar terus, Abah belikan majalah anak. Edi sangat senang sekali,” tambah Abah Udju. Setiap bulan, Abah yang menerima gaji dari perkebunan harus menyisihkan untuk membeli buku. Lama-lama, majalah yang Abah beli terkumpul banyak.

 Selain itu, majalah yang dibeli Abah sudah tak dipakai lagi, majalah itu dinilai sudah tak menarik lagi. ”Karena banyaknya majalah, Abah bingung juga mau diapakan,” terangnya. Tadinya Abah mau membuangnya saja. Namun setelah dipikir lagi, isi majalah tersebut banyak sekali manfaatnya. Abah pun berniat menyewakan majalah-majalah tersebut. Niatan tersebut ternyata disambut baik oleh istrinya, Heni Saenih (49). Selain menambah penghasilan, juga dapat memberi wawasan bagi masyarakat yang membacanya. Namun, niatan Abah tak langsung membuahkan hasil. Malah masyarakat di sekitarnya acuh tak acuh dengan kehadiran Abah yang membawa majalah bekas.
Dimulai tahun 1986 sampai 1988, Abah berusaha mencari pembaca di lingkungan RT dan RW setempat. Tahun berikutnya, Abah ingin merambah ke desa lainnya. Lagi-lagi Abah berjalan kaki sambil membawa tas punggung dan beberapa majalah di pelukannya. Sama seperti di desa Abah, peminatnya ternyata kurang. Sampai suatu ketika, seorang anak SMA sengaja mencari Abah untuk mencari kliping bencana alam. ”Abah sangat senang sekali. Anak itu ternyata membuka mata Abah betapa pentingnya informasi,” akunya. Setelah mendapat bahan untuk klipingnya, si anak pun memberikan uang kepada Abah sebagai imbalannya.


Namun, Abah menolak dan memintanya untuk membawa teman-teman mereka untuk membaca majalah yang dibawa Abah. Ternyata permintaan Abah dipenuhi anak itu dengan membawa teman-teman mainnya untuk membaca majalah yang bawanya. ”Abah senang sekali saat itu, sampai ibu-ibu juga ikut membaca,” ujar Abah. Melihat sinyal positif tersebut, Abah kian bersemangat berkeliling desa, meski harus membagi waktu bekerja. Perlahan apa yang dilakukan Abah Udju disambut suka cita warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak sekolah. Ibu-ibu biasanya meminjam resep buku atau majalah resep masakan, sedang anak-anak suka buku atau majalah yang ada ceritanya.


Meski ada catatan siapa yang meminjam, majalah-majalah koleksi Abah kadang tak kembali dengan sempurna. Malah ada yang jilidnya terlepas dan halaman dalamnya tak lengkap. ”Kebanyakan mereka mengambil resep. Tapi tak apa. Yang penting bermanfaat,” akunya. Ternyata resep yang dirobek dari majalah Abah pun dipraktikkan. Bahkan, Abah mendapat sepotong kue dari seseorang yang mengaku telah merobek majalahnya. ”Akhirnya ia mengaku juga kalau merobek majalah Abah. Malah Abah senang bila majalah itu bermanfaat juga,” tutur Abah Udju.

Dirampok Preman Kampung
Selama berkeliling, banyak kejadian unik yang dialami Bah Udju. Termasuk saat ia dirampok sekelompok preman kampung. Ceritanya, suatu sore  di tahun 1996. Saat itu hujan turun, dan dia berteduh di sebuah warung yang di dalamnya ada banyak pemuda. Beberapa jam kemudian, begitu hujan reda, ia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Namun baru saja berjalan sekitar 100 meter dua pemuda besepeda motor memepet Udju. 
Pak, minta rokok?!” hardik salah seorang dari pemuda tersebut. 
Bah Udju berusaha tenang. Sambil berkata lembut, ia menyatakan bahwa dirinya tidak merokok. “Kalau begitu, saya minta uang!” kata pemuda yang satunya lagi dalam nada kasar. Tidak ingin berpanjang mulut, Bah Udju lalu memberikan uang Rp.5.000 kepada mereka. 
Masa cuma segini?!” Ditanya demikian, Bah Udju coba menjelaskan bahwa ia hanya punya uang Rp.6.500. Alih-alih merasa iba, para pemuda itu justru dengan kasar merebut buntalan kain yang dibawa Udju sambil langsung melarikan sepeda motornya. 
Diperlakukan seperti itu, Bah Udju tidak coba melawan. Ia pasrah. Di tengah sisa asap knalpot sepeda motor yang meludahi udara sekitarnya, ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga Tuhan melindunginya. “Saya putuskan untuk pulang saja  ke rumah saat itu,” kenangnya. 
Setelah sekitar 30 meter berjalan dari tempat kejadian, betapa terkejutnya Bah Udju saat melihat buntelan yang tadi dirampas para pemuda tersebut ada di pinggir jalan dalam kondisi isinya sudah berserakan. “Rupanya mereka membuangnya karena isi buntalan itu bukan barang berharga di mata mereka, tapi hanya buku dan majalah bekas,” ujar Bah Udju seraya tersenyum. 
Kendati sebagian buku tersebut basah karena air hujan yang menggenang di jalanan, Udju tetap tak tega untuk mengacuhkannya. Dengan hati-hati, ia pun memunguti satu persatu buku-buku yang berserakan itu dan kembali membawanya pulang. “Buku-buku itu ibarat hidup saya, jadi harus saya rawat sebaik mungkin,” katanya. 


Atas pengorbanannya, tahun 2009 Perpustakaan Nasional memberi Abah penghargaan sebagai Wahana Belajar Sepanjang Hayat dan juga berbagai penghargaan lainnya. ”Alhamdulillah pemerintah memberikan apresiasi terhadap aktivitas Abah. Semoga bermanfaat bagi semuanya,” akunya. Selain mengentaskan kebodohan di lingkungan sekitarnya, Abah juga berhasil mengantar anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi. Edi sudah menyelesaikan kuliahnya di Unpad, Bandung dan meraih gelar sarjana hukum. Sedangkan Dede tengah menyelesaikan kuliah di sebuah perguruan tinggi di Bandung.




[1] Tabloid Nyata. Abah Udju, Pustakawan Keliling dari Desa Gunung Hejo dalam http://nyata.co.id/kisah/abah-udju-pustakawan-keliling-dari-desa-gunung-hejo/ diakses pada Jumat, 22 Mei 2015; Pukul 15.29 WIB.

Sumber gambar dan video:
- http://nyata.co.id/wp-content/uploads/2013/02/Profil-Abah-Udju_ft.doni_.-13.jpg
-http://nyata.co.id/wp-content/uploads/2013/02/Profil-Abah-Udju_ft.doni_.warga-tengah-membaca-buku-dan-majalah-abah.-12.jpg
-https://dikabeast.files.wordpress.com/2014/01/img_8613.jpg
-https://dikabeast.files.wordpress.com/2014/01/img_8615.jpg
-https://41.media.tumblr.com/edf403aef2df64df9bf1cfe9b852ba8c/tumblr_nk0d0btNqi1rj6eweo3_500.jpg
-https://36.media.tumblr.com/cf28bec9c89b1f490da0c5cfa56929dd/tumblr_nk0d0btNqi1rj6eweo4_500.jpg
-https://www.youtube.com/watch?v=6uPrY3Sqm8w

Senin, 23 Februari 2015

#Savelocaltourism Kampung Tajur: Diantara Syukur dan Pentingnya Pengawasan Kebijakan yang Berkelanjutan

oleh Alpiadi Prawiraningrat


Tulisan ini akan menceritakan tentang perjalanan melakukan (wisata lokal) local travelling di desa wisata Pasanggrahan, Bojong, Purwakarta bernama Lambur Kahuripan  kampung Tajur bersama para mahasiswa tingak akhir yang sedang galau skripsi Devian (Komunikasi, UNPAD 2011) dan Ridho (Teknik Mesin, UI 2011).  Pengalaman yang diperoleh tidak hanya sekedar kesenangan dalam menikmati keindahan alam, tapi juga refleksi terhadap diri sendiri khususnya rasa syukur terhadap Ilahi akan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia serta bagaimana ternyata upaya pengembangan suatu daerah menjadi desa wisata perlu disertai dengan pengawasan yang berkelanjutan, baik dari pemerintah, swasta maupun masyarakat setempat. Selamat membaca!


Sekilas tentang Kampung Tajur
Kampung Tajur sudah menjadi tujuan wisata sejak tahun 1982 dengan wisatawan yang datang awalnya adalah warga Jakarta. Selanjutnya, setelah melihat potensi yang dimiliki kampung ini, Pemda Purwakarta lalu meresmikan kampung Tajur sebagai kampung wisata bimbingan penyuluhan pada 2006. Dikutip dari website resmi Pemda Purwakarta bahwa kampung Tajur merupakan sebuah daerah yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta sebagai tempat wisata berbasis wawasan lingkungan dan budaya setempat dengan melibatkan peran serta masyarakat yang tinggal di area tersebut (Ecotourism based on community development).
 Bale Warga Kampung Tajur

 Tutunggulan Tempat Menumbuk Padi

 Leuit yang Seharusnya Tempat Menyimpan Padi tapi Malah Berisi Sampah

Tradisi dan budaya Sunda masih kental melekat pada masyarakat kampung Tajur. Di antaranya tradisi Ngencleng yaitu suatu kebiasaan yang mana setiap warga meletakkan sebuah bambu yang berisi beras di depan pintu rumah mereka masing-masing untuk mengantisipasi bencana kelaparan apabila kampung mereka tertimpa musibah seperti gagal panen ataupun hasil panen kurang baik. Kemudian kegiatan Tetunggulan atau kegiatan menumbuk padi ini tidak setiap hari dilakukan, hanya pada acara-acara khusus saja seperti penyambutan tamu, hajatan/syukuran, peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus).


BABAK 1: Perjalanan Menuju Kampung Tajur
Gapura Selamat Datang di Kampung Tajur

Untuk ke kampung Tajur dari Purwakarta mengarah ke Wanayasa. Setelah melewati Situ Wanayasa, terdapat persimpangan jalan. Jalan mengarah ke kiri tujuan Lembang, Subang dan Sumedang. Nah, kita ambil jalan lurus mengarah ke Desa Pasanggrahan. Ikuti jalan tersebut sampai bertemu dengan gapura dan papan petunjuk Madrasah Aliyah. Kemudian masuk ke jalan tersebut sampai di Desa Pasanggrahan, parkir kendaraan dapat dilakukan di halaman Kantor Desa. Setelah itu, perjalanan menuju Kampung Tajur dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau mengendarai kendaraan bermotor kurang lebih 3 Km untuk mencapai Kampung Tajur.
Sepanjang perjalanan dari Purwakarta menuju Desa Pasanggrahan, kita akan disuguhi oleh keindahan alam mulai dari situ Wanayasa, area pesawahan, perkebunan sayur hingga hutan rindang di sepanjang jalan. Begitupun dengan akses jalan menuju Desa Pasanggrahan, dinilai cukup nyaman karena sudah mulus oleh aspal sebagai implementasi nyata dari program Bupati Purwakarta Kang Dedi Mulyadi yaitu Jalan Leucir.


BABAK II: Bersyukur dari Keindahan Alam Kampung Tajur
 Suasana Kampung Tajur (1)
 Suasana Kampung Tajur (2)

Perkebunan Sayur Kampung Tajur 

Setibanya di kampung Tajur, nuansa khas Sunda begitu terasa.  Mulai dari asri dan indahnya panorama alam yang disuguhkan, hingga rumah-rumah penduduk yang khas Sunda yaitu rumah panggung. Selain itu, lokasi kampung Tajur yang jauh dari pusat kota menjadikan suasana begitu tentram dan damai. Untuk beberapa detik terpancar dari raut wajah Adev dan Ridho hilangnya kekhawatiran akan seramnya wajah pembimbing, rumitnya skripsi yang halamanya tidak pernah move on karena pesona budaya kampung Tajur. Namun demikian, kebingungan tiba-tiba muncul tatkala kita sendiri ragu hendak dibawa kemana petualangan jiwa dan ragga ini, karena destinasi pariwisata yang menjadi referensi daya tarik ke kampung Tajur hanya sebatas curug Panembahan, ditambah makam Eyang Pandita, Eyang Bongkok dan kasepuhan lainnya yang memang terletak di kampung tersebut. 
Setelah sejenak bingung dan melaksanakan sholat dzuhur memohon pencerahan pada yang maha kuasa dan berdiskusi singkat, akhirnya diputuskan untuk melakukan petualangan dengan tujuan yang dipasarahkan pada alam, artinya biarlah nanti alam yang menunjukan arah tujuan perjalanan kita. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Agustinus Wibowo dalam bukunya yang berjudul Titik Nol bahwa “Jangan ragu, lakukakanlah perjalananmu.  Karena saat kau tidak tahu arah mana yang harus ditempuh. Alam akan menuntunmu.”
Sesudah kawasan pemukiman penduduk kampung Tajur, destinasi pariwisata selanjutnya yang ditemui adalah curug Panembahan, yang berlokasi sangat dekat dengan rumah warga di kampung Tajur. Meskipun ketinggian air tidak begitu tinggi, akan tetapi segarnya air dari pegunungan Burangrang menjadi daya tarik tersendiri. Berdekatan dengan Curug Panembahan, terdapat makam sesepuh Eyang Pandita yang dipercaya sebagai sesepuh desa Pasanggrahan.  Keunikan dari makam ini adalah lokasinya yang berada di atas bukit, sehingga dapat terlihat pemandangan gunung Burangrang, area pesawahan, perkebunan sayur warga dan kawasan hutan. 
 Gerbang Menuju Makam Sesepuh Kampung Tajur

 Saung Niis

Makam Eyang Pandita

Setelah selesai berziarah ke makam Eyang Pandita dan berfoto-foto dekat curug Panembahan. Kita-pun kembali melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan setapak penduduk menuju gunung Burangrang, tanpa tahu apa yang akan kita temukan di ujung perjalanan nanti.  Terpikir untuk balik kanan dan kembali ke perkampungan, tapi Ridho menyarankan untuk terus berjalan dengan harapan dapat menemukan hal istimewa di antara setiap tikungan area pesawahan. Ternyata benar saja, setelah kurang lebih 15 menit yang diawali dengan adanya aliran selokan kecil dengan air yang jernih, kemudian pemandangan gunung Burangrang ampai akhirnya kita menemukan bagian dari surga dibalik lekukan gunung Burangrang yaitu sungai Ciherang yang begitu jernih. 
 Air Terjun Panembahan

 Menikmati Kesegaran Aliran Sungai Ciherang

 Aliran Sungai Ciherang



Selama kurang lebih 2 (dua) jam kita berenang dan berfoto-foto, menikmati kesegaran air pegunungan yang tidak kita temukan di pekotaan.  Setelah puas akhirnya saya menuju ke salah satu jembatan tradisional yang terbuat dari bambu dengan tanpa terus berhenti mengagumi keindahan alam yang masih bagian dari Purwakarta dan belum banyak orang ketahui. Sambil duduk di atas jembatan barengan Adev dan Ridho, tetiba Adev sahabat terbaik dalam perngalayaban bertanya: “Gimana yah kalau misalya orang Afrika atau orang di belahan bumi sana yang kekurangan sumber air di bawa kesini? Bahagia banget kali yah, kaya nemu surga?”.
Saya sendiri termenung akan pertanyaan Adev.  Bukan karena kagum akan kepala Adev yang kini menjadi botak sebagai cara buang sial agar skripsian lancar. Tapi pertanyaan Adev membawa saya pada perenungan yang begitu dalam, jauh dari khayalan membawa orang Afrika berkunjung ke Bojong, Purwakarta. Perenungan tersebut terkait dengan sebuah kata sederhana, namun apabila dipahami secara dalam bermakna luar biasa. Kata itu adalah “bersyukur”. Ya, kadang kita sering lupa akan hal tersebut, karena terlalu sibuk melakukan perbandingan dalam berbagai hal.  Baik dalam konteks pribadi, seperti keadaan kehidupan kita dengan teman ataupun melakukan perbandingan pada konteks yang lebih luas berkaitan dengan kondisi negara kita dengan negara lain. Baik dari segi sosial, ekonomi, budaya, politik hingga potensi pariwisata yang dimiliki oleh negara lain yang tanpa disadari bahwa bumi pertiwi ini sangat kaya akan potensi pariwisata.
Meskipun sebagian wilayah Purwakarta sedang dilanda tranformasi menjadi kawasan industri, hingga sawah rata dengan pabrik hingga tidak dapat lagi memproduksi padi.  Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa daerah Purwakarta ini sebetulnya masih begitu asri dan memiliki daya tarik tersendiri, dengan tanahnya yang masih subur, dengan air-nya yang masih dapat menyegarkan, dengan hutan yang oksigennya membuat udara masih dapat menyejukan, dengan matahari yang masih dapat memberikan hangat tanpa menyakiti.   

 Pemandangan Gunung Burangrang

 Sungai Ciherang

Terlepas dari melimpahnya sumber air yang merupakan kekayaan alam sebagai pokok pertanyaan Adev yang telah membawa saya pribadi kepada perenungan tentang bersyukur.  Terdapat dua poin yang saya garis bawahi dari renungan tentang bersyukur yang saya peroleh dalam petualangan di Kampung Tajur. Pertama, bahwa beryukur perlu ditanamkan terhadap semua lapisan umur, baik anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa sekalipun.  Karena hal ini dapat menjadi salah satu cara menumbuhkan kebanggan akan potensi pariwisata yang dimiliki negeri kita, baik keindahan alam pegunungannya, kesejukan hutan yang dimiliki hingga melimpahnya air yang mungkin bagi sebagian masyarakat di belahan bumi sana tidak dimiliki. 
Kedua, bersyukur juga tidak hanya dipahami sebatas konteks menghaturkan terima kasih atas apa yang telah diberikan atau yang diperoleh. Akan tetapi, lebih dari itu bersyukur menuntun kita terhadap aksi nyata untuk menjaga dan merawat pemberian sang pencipta.  Begitupun dengan menjaga keindahan alam seperti halnya Kampung Tajur, artinya tidak hanya sebatas pada aktivitas sebagai wisatwan yang menikmati keindahan alam ataupun kegiatan promosi potensi pariwisata yang Purwakarta miliki dengan mem-posting di media sosial yang akhirnya hanya berujung eksploitasi. Tapi juga berkontribusi nyata agar alamnya tetap terawat dan lestari, menjaga hutanya agar tidak ditebang sesuka hati, tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuat coretan-coretan liar adalah contoh sederhana lainnya dari aksi nyata bersyukur terhadap potensi pariwisata negeri ini. 


BABAK III: #SaveLocalTourism Pentingnya Pengawasan Kebijakan yang Berkelanjutan
            Bagai dua sisi mata pedang yang selalu memiliki sisi baik dan buruk.  Pengembangan wisata kampung Tajur pun demikian, disamping keindahan alam dan suasana asri yang dimiliki sebagai desa wisata di kabupaten Purwakarta.  Di sisi lain, pengembangan kampung Tajur sebagai desa wisata juga memiliki beberapa persoalan yang menjadi perhatian saya pribadi, khususnya berkaitan dengan kesadaran masyarakat baik penduduk setempat maupun wisatawan atau pengunjung. Sebagai contoh adalah sampah di beberapa titik, perlunya pengawasan dari pembangunan fasilitas yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten Purwakarta, sampai promosi yang berkelanjutan dari objek pariwisata kampung Tajur sendiri.
            Sampah nampaknya menjadi persoalan yang selalu terjadi pada destinasi wisata lokal di Indonesia. Begitupun dengan kampung Tajur, meskipun memiliki alam yang asri namun pada beberapa titik terdapat gundukan sampah yang mengganggu keindahan alam yang disajikan kampung Tajur.
Sampah di Sekitar Kampung Tajur

Kemudian berkaitan dengan perawatan fasilitas yang telah dibangun oleh Pemda Purwakarta. Nampaknya pengawasan dari institusi terkait seperti dinas pariwisata ataupun pemerintah desa setempat perlu lebih dioptimalkan. Mengingat terdafat fasilitas yang telah dibangun justru kurang terawat dan terkesan diabaikan proses perbaikannya.  Seperti halnya leuit, sebagai tempat menyimpan padi. Tidak digunakan sebagai semestinya dan terlihat sangat kotor dan berisi sampah, bukan padi sebagaimana seharusnya.  Begitupun dengan fasilitas toilet umum yang disediakan di belakang Aula Bale Warga begitu tampak sangat kumuh tidak terawat bahkan kering tidak ada air. 
Sampah di dalam Leuit yang seharusnya berisi padi 

Toilet Umum yang Dibangun Pemda Purwakarta Sangat Kering dan Kotor Tidak Terawat

 
Jalanan yang Mulai Rusak

Persoalan selanjutnya adalah masih belum maksimalnya promosi terhadap potensi kampung Tajur yang terlihat dari media yang dilakukan dalam melakukan promosi, seperti halnya website yang direkomendasikan oleh Pemda Purwakarta sebagai pusat informasi lengkap tentang kampung Tajur yang ternyata tidak dapat diakses. Juga media sosial lain seperti Facebook yang sudah lama tidak digunakan. Bahkan promosi melalui Facebook terakhir dilakukan tahun 2010.  Selain itu, promosi terhadap masyarakat Purwakarta juga perlu dilakukan, mengingat menurut penuturan salah satu warga setempat bahwa pengunjung dari Purwakarta ke kampung Tajur masih sangat sedikit, bahkan pengunjung yang datang mayoritas berasal dari luar Purwakrta, khsuusnya Jakarta, Tanggerang, Bekasi dan beberapa daerah lainnya.


 
                                        
                                                   Media Promosi yang Belum Digunakan Optimal

Oleh karena itu, pembangunan suatu kawasan menjadi desa wisata sebagai implementasi kebijakan publik tidak hanya sebatas pada proses melakukan pembangunan fisik ataupun infrastruktur saja, akan tetapi sosialisasi terhadap warga setempat dan pengawasan yang berkelanjutan perlu dilakukan. Agar proses pengembangan desa wisata dilakukan secara optimal.

Penutup
Perjalanan wisata lokal di kampung Tajur telah memberikan pelajaran berharga, mulai dari bersyukur atas rahmat Tuhan terhadap keindahan alam negeri ini sebagai potensi Pariwisata kabupaten Purwakarta yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia, hingga pemahaman yang jauh lebih mendalam bahwa implementasi kebijakan terhadap desa wisata, khususnya dalam konteks pengawasan perlu lebih dioptimalkan baik peran pemerintah, masyarakat dan wisatawan yang perlu dilakukan secara terus menerus atau sustinable agar pengembangan desa wisata dapat dilakukan secara optimal. Sehingga pengelolaan dan merawat kampung Tajur adalah TUGAS KITA BERSAMA!.  

Sebagai penutup, bahwa generasi muda dapat menjadi bagian penting dalam proses #SaveLocalTourism kampung Tajur artinya adalah tanggungjawab kita untuk tidak hanya menjadi penikmat pariwisata dengan hanya berfoto-foto ria, tapi juga untuk turut serta mempromosikan potensi pariwisata lokal, kritisi dengan menemukan fakta negatif dari lokasi wisata lokal, dan berkontribusi dengan mengajak  orang terdekat untuk menjaga kelestarian alam lokasi wisata lokal yang kita kunjungi. Mengutip salah satu pernyataan bahw terkadang manusia merasa dirinya besar, tapi bagaimanapun disadari atau tidak alam jauh lebih besar. Namun alam dan manusia tidak dapat berdiri sendiri, mereka akan selalu saling membutuhkan dan  tanggungjawab kita sebagai generasi muda yang merupakan bagian dari manusia untuk menjaga alam Purwakarta,  alam Indonesia, rumah bagi kita dan orang-orang yang kita cinta. #SaveLocalTourism