Minggu, 24 Mei 2015

#ExplorePurwakarta: Opini dan Refleksi dari Pesona Alam Perbatasan Curug Ponggang



 oleh Alpiadi Prawiraningrat
Selalu menarik untuk membahas potensi pariwisata daerah kabupaten atau kota di Jawa Barat karena setiap daerah memiliki potensi beragam baik kuliner, adat istiadat ataupun alam. namun, disamping keberagaman potensi tersebut terkadang terdapat hal yang dapat menjadi bahan untuk direnungkan dan dipahami lebih mendalam, baik dari segi pengembangan potensi pariwisata maupun refleksi yang diperoleh setelah menikmati potensi wisata tersebut.  Oleh karena itu, tulisan ini akan sedikit menceritakan tentang sebuah pesona alam sebagai salah satu potensi pariwisata yang mulai terlupakan oleh masyarakat bernama curug Ponggang[1] yang terletak diperbatasan kabupaten Purwakarta dan kabupaten Purwakarta, provinsi Jawa Barat. 

Perjalanan Menuju Curug Ponggang
Keinginan untuk mengunjungi curug Ponggang berawal dari sebuah ketertarikan terhadap Display Picture (DP) seorang teman yang sudah berkunjung ke tempat tersebut. Kemudain saya bertanya dan mencari tahu lokasi serta cara menuju lokasi curug Ponggang baik secara langsung maupun searching di internet yang ternyata informasi tentang curug Ponggang masih sedikit. Setelah dirasa memperoleh informasi yang cukup, selanjutnya saya memutuskan untuk lakukan perjalanan ke Curug Ponggang pada tanggal 30 November 2014 (kalau berdasarkan tanggal yang tertera difoto sih tanggal segituan).   Pertanyaan random-nya, dengan siapakah saya berangkat? Jawabanya adalah sendiri.  Ya, untuk kali ini saya melakukan perjalanan sendirian itung-itung self reflection-lah di perjalanan (padahal mah alesan ga punya temen dan gebetan).
 Kantor Desa Ponggang

Terdapat dua cara yang dapat dijadikan referensi menuju curug Ponggang. Pertama, apabila titik poin keberangkatan dari kota Purwakarta, dapat mengambil jalan yang ke arah Wanayasa. Setelah tiba di Wanayasa, ambil pertigaan ke arah Subang dengan terus lurus sampai akhirnya melewati gapura perbatasan antara kabupaten Purwakarta dan kabupaten Subang yang kemudian akan menemukan sebuah gank yang bersebrangan langsung dengan jalan menuju objek wisata curug Cijalu. Jadi, jika dari arah Purwakarta gank menuju curug Ponggang ini berada di sebelah kiri, sedangkan curug Cijalu sebelah kanan.  Lalu ambil lurus hingga akhirnya menemukan kantor desa Ponggang. Setibanya disana, dapat ditanyakan langsung kepada warga yang sudah sangat familiar dengan curug Ponggang. 
Sedangkan referensi jalan kedua dengan titik poin kota Purwakarta dapat menuju curug Ponggang dengan belok di Legokhuni sebelum memasuki kota Wanayasa kalau dari arah Purwakarta. Masuk menuju kecamatan Kiara Pedes via Sate Maranggi Pareang. Selepas warung makan tersebut, kurang lebih 500 meteran, belok kanan menuju Kantor kecamatan Kiara pedes. Di pertigaan kecamatan, lurus saja dengan mengambil jalur yang menuju desa Ciracas. Memasuki desa Ponggang,jalan menurun mulai mendominasi, sampai akhirnya mentok di depan sebuah Mesjid kecil, kampung Ponggang. Tapi perjalanan belum selesai, masih  diperlukan aktivitas berjalan kaki sekitar 500 meter untuk tiba di curug Ponggang menyusuri jalan setapak yang sudah penuh dengan semak belukar.

Tiba di Curug Ponggang
Akhirnya tiba juga di curug Ponggang yang merupakan air terjun yang menjadi batas alam antara kabupaten Purwakarta dan kabupaten Subang.  Curug ini masih sangat asri dengan aliran air yang berasal dari sungai Cilamaya.  Hal menarik dari curug Ponggang ini adalah bentuknya yang tidak seperti curug atau air terjun kebanyakan yang biasanya air langsung turun lepas dari atas tebing, akan tetapi lebih seperti air yang keluar dari gorong-gorong alami. 









Pesona alam curug Ponggang


Tidak hanya menikmati keindahan alam curug Ponggang. Saya juga bertemu dengan beberapa penduduk setempat yang dari merekalah saya tidak hanya memeperoleh informasi tapi juga mereka berbaik hati membuatkan saya jembatan untuk menyebrang mengingat pada saat itu aliran air curug Ponggang sedang cukup deras. Adapun informasi yang diperoleh terkait dengan kejayaan curug Ponggang dimasa lalu, yang mana Curug ini pernah begitu populer di media dan banyak wisatawan lokal yang berkunjung pada tahun 2002 sampai 2005. Selama tiga tahun tersebut, tempat ini bisa di jadikan andalan penghidupan penduduk Ponggang. Sebagai bukti kejayaan popularitas curug Ponggang adalah jalanan tembok sepanjang 600 meter dari tempat parkir sampai lokasi.  Selain itu, beberapa kali menjadi objek social project berupa pengabdian mahasiswa dari beberapa ubiversitas yang berkunjung ke curug Ponggang,  tapi setelah itu entah kenapa hari ini yang terlihat adalah semak belukar dan jalan tembok yang licin berlumut. Entah karena apa, curug ini sekarang ditinggalkan begitu saja.
 
Bertemu warga setempat dan dibuatkan jembatan

Beberapa alasan pun muncul sebagai penyebab menjadi tidak populernya curug Ponggang, mulai dari faktor akses menuju lokasi yang berkaitan dengan transportasi yang sangat minim, sumber daya manusia khususnya masyarakat, hingga yang cukup menarik adalah alasan mistis bahwa terdapat kekuataan gaib yang menjaga curug Ponggang.  Berdasarkan penuturan warga setempat,  masing-masing bagian wilayah baik area kabupaten Purwakarta ataupun kabupaten Subang dijaga oleh makhluk tinggi besar yang memegang gada atau semacam pentungan. Selain itu,  mulut curug sebagai jalur keluarnya air adalah pintu gerbang atau jalan ke alam lain yang terkadang membuat pengunjung tidak nyaman dan ingin segera meninggalkan tempat tersebut. Namun demikian, saya mencoba menarik keyakinan mistis tersebut kepada opini pribadi yang lebih logis tentang kurang optimalnya pengembangan potensi pariwisata alam curug Ponggang.


Opini terhadap Pengembangan Potensi Wisata Curug Ponggang
Terlepas dari alasan mistis yang diyakini oleh masyarakat sebagai cerita turun temurun menjadi warisan tradisional.  Saya sendiri berusaha beropini pada alasan yang lebih logis. Pertama, lokasi curug sebagai perbatasan alami dua kabupaten. Meskipun namanya mengandung kata Ponggang sebagai desa  yang dekat dengan curug akan tetapi berdasarkan penuturan salah satu warga bahwa sebetulnya curug itu hanya sebatas garis tanda batas saja yang menjadikan pengembangnya terabaikan sehingga secara garis pertanggungjawaban pengelolaan curug masih belum jelas.
Kedua, alasan mistis sebagai kontruksi sosial yang kemudian menjadi kesepakatan masyarakat. Hal tersebut tidak dapat dielakan dalam konteks pengembangan pariwisata tidak hanya pada curug Ponggang, tapi juga di Indonesia. Alasan ini menjadi salah satu rumor yang dikembangkan. misalnya bahwa suatu kawasan potensi alam air terjun tidak dapat dikembangkan menjadi objek wisata karena akan mengganggu Buto Ijo penunggu tempat tersebut dan dapat menyebabkan kesialan apabila dilanggar.  Hal tersebut menjadi sebuah keyakinan dan kerap kali menjadi faktor penghambat pengembangan tidak optimalnya pengembangan pariwisata.  
 
Kunjungan mahasiswa ke curug Ponggang sekitar tahun 2010 (source: wikyrjaf.blogspot.com)

Ketiga, terkait dengan semangat sesaat terhadap pengembangan suatu objek wisata.  Seringkali antusiasme terhadap implementasi kebijaka pengembangan potensi wisata oleh pemerintah hanya terjadi pada awalanya saja atau bahasa kecehnya “respon sambal, yang berarti sangat antusias diawal diawal pembangunan dan pelaksanaan kemudian mengalami kejenuhan setelah beberapa waktu tertentu hingga akhirnya objek wisata tersebut terabaikan.  Oleh karena itu, pengembangan suatu objek wisata memerlukan komitmen yang tinggi, artinya proses pengembangan harus sustainable dan berkelanjutan.  Tidak hanya soal infrastruktur, sumber daya manusia khususnya masyarakat yang berada dilingkungan  objek pariwisata juga perlu untuk diberdayakan dan diberikan edukasi bagaimana menjadi pihak yang berperan penting dalam membuat pengunjung nyaman.  Hal paling dasar adalah keramahtamahan dan keterbukaan dalam memberikan informasi kepada pengunjung, dibandingkan dengan orientasi ekonomi untuk mendapat keuntungan rupiah dari hadirnya wisatawan. 
Asumsi tersebut muncul didasarkan pada gejala yang biasanya terjadi pada pengembangan objek wisata yang melibatkan masyarakat setempat, dimana gejala money oriented menjadi salah satu penyebab kurang optimalnya pengembangan suatu objek wisata, karena masyarakat setempat hanya akan bergerak apabila memperoleh keuntungan ekonomi saja, sedangkan terlepas dari itu mereka akan sangat acuh.  
Opini lainnya adalah terkait dengan  promosi  objek wisata yang tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dengan dinas terkait, tetapi juga  masyarakat dan pengunjung.  Pada era teknologi modern saat ini, melakukan promosi adalah sesuatu hal yang sangat mudah karena cukup dengan mencantumkan gambar atau foto objek wisata di media sosial, seperti facebook, twitter ataupun instagram sehingga membuat orang lain tertarik.  Hal demikian nampaknya belum terimplementasikan pada upaya promosi curug Ponggang dan dapat dijadikan solunsi alternatif dalam mempromosikan curug Ponggang saat ini.
Akan tetapi, hal yang perlu diperhatikan dalam aktivitas promosi tersebut tidak hanya pada hal menarik wisatawan untuk berkunjung, tapi juga melakukan social campaign atau kampanye sosial untuk menunjukan hal yang perlu diperhatikan sebagai bentuk kepedulian terhadap objek wisata Curug Ponggang.  Dengan demikian diharapkan pengembangan objek wisata di Jawa Barat dapat lebih optimal.


Refleksi  dari Curug Ponggang
Disamping melahirkan opini terhadap pengembangan suatu objek wisata. Pengalaman melakukan perjalanan ke curug Ponggang telah membawa saya kepada perenungan cukup dalam tentang dua hal.  Pertama, berkaitan dengan rasa syukur terhadap karunia Tuhan terhadap rahmat yang diberikan berupa keindahan potensi alam yang begitu luar biasa tdi Jawa Barat. Oleh karena itu adalah tugas kita sebagai manusia khususnya generasi muda yang apabila memang tidak mampu mengembangkannya menjadi lebih besar, minimal adalah menjaga dan melestarikanya sehingga pesona dan kebermaanfaatan curug Ponggang dapat dinikmati oleh generasi Indonesia di masa depan.
Kedua, berkaitan dengan perbatasan yang dalam pemikiran saya selalu memiliki polemic tersendiri, baik ditingkat regional ataupun lokal. Pada skala regional misalnya para masyarakat Indonesia di perbatasan negara ataupun yang terjadi di perbatasan negara lain yang nasibnya seringkali terabaikan.  Begitupun dengan curug Ponggang, yang meskipun memiliki potensi alam yang cukup besar untuk dikembangkan akan tetapi lokasinya yang menjadi garis batas alam bagi dua kabupaten di Jawa Barat ini, nasibnya juga terpinggirkan.  Secara pribadi nampaknya tidak begitu bijak apabila hanya  menyalahkan salah satu pihak tentang kurang optimalnya pembangunan objek wisata dan menentukan kewajiban siapa yang seharusnya merawat.  Sehingga, lebih baik menjadi self reflection atau refleksi bagi diri diri sendiritentang apa yang dapat saya lakukan sebagai generasi muda untuk mengembangkan objek wisata curug Ponggang?  Hal sederhana yang mungkin dapat dilakukan hanya berkunjung dan menulis tentang curug Ponggang tersebut. Meskipun hal tersebut tidak cukudp memberikan perubahan yang signifikan, tapi saya berharap bahwa  masyarakat khusunya pemuda lain minimal dapat mengetahui bahwa di kampung halaman tempat tinggalnya terdapat potensi alam yang patut disyukuri dan dijaga sebagai bentuk terimakasih dan kontribusi aksi nyata dalam menjaga bumi pertiwi. Hatur nuhun! #ExploreLocalTurism #UP! #ExplorePurwakarta


[1] Curug dalam bahasa Indonesia berarti Air Terjun.

Jumat, 22 Mei 2015

"Abah Udju Sang Pustakawan Keliling"



Tulisan ini merupakan sebuah kutipan langsung dari artikel berjudul "Abah Udju, Pustakawan Keliling dari Desa Gunung Hejo" [1] yang mengisahkan perjuangan seorang lelaki tua berusia 63 tahun bernama Djudju Djunaedi atau lebih dikenal sebagai Abah Udju yang merupakan pustakawan keliling dengan kisah hidup perjuanganya yang sangat mengispirasi dalam upaya mencerdaskan kehidupan generasi muda Indonesia, khususnya anak-anak di kecamatan Darangdan, kabupaten Purwakarta. Berbagai dokumentasi baik gambar maupun video yang terdapat dalam tulisan ini diperoleh dari berbagai sumber baik media massa, youtube dan beberapa blog yang terinspirasi dari perjuangan luar biasa seorang Abah Udju sang Pustakawan Keliling kebanggan masyarakat Purwakarta. Selamat membaca!

 

           
Pustakawan Keliling Bernama Abah Udju
Dengan tas gendong usang di punggungnya, seorang lelaki tua berjalan menyusuri Desa Gunung Hejo, Darangdan, Purwakarta. Di sebuah rumah dia berhenti. Di saat yang sama, beberapa anak yang sejak tadi bermain menyambut pria tersebut. Seperti ada yang mereka tunggu. Tas usang tadi kemudian diturunkan ke lantai. Apa isi tas usang itu? Buku dan majalah! Setelah buku di tata, anak-anak itu memilih dengan antusias. Begitu buku didapat, anak-anak itu membaca penuh semangat. Beberapa ibu juga terlihat ikut mengerubutinya.

Lelaki yang membawa tas usang berisi puluhan buku itu adalah Djudju Djunaedi (63). Tanpa digaji, tanpa pamrih, tanpa lelah dan tanpa bernaung dalam lembaga tertentu, Djudju Djunaedi telah mencerdaskan bangsa! Setiap hari, pria bersahaja yang akrab disapa Abah Udju itu berjalan dari satu desa ke desa lain untuk mencari pembaca buku-buku koleksinya. Rata-rata dia menjelajahi 6 desa yang kalau dihitung bisa mencapai 15 hingga 20 km. Jarak itu ditempuh dengan jalan kaki. Untuk menarik perhatian masyarakat, Abah selalu membawa seruling bambu. Seruling itu akan dimainkan ketika ada warga membaca. ”Sekalian mengenalkan budaya Sunda,” ujar Abah. Sudah lebih dari 20 tahun Abah Udju jadi pustakawan keliling.

Perpustakaan Mini “Saba Desa
Selain menjadi perpustakaan keliling, Abah pun membuka perpustakaan mini di rumahnya yang diberi nama Saba Desa. ”Saba artinya berkunjung dalam bahasa Sunda,” terang Abah dengan logat Sunda yang kental. Abah mulai rajin mengumpulkan buku dan majalah sejak sejak tahun 1984. Awalnya buku dan majalah itu milik sendiri dan juga buku bekas pelajaran anak-anaknya. Perlahan tapi pasti, buku koleksi Saba Desa main bertambah seiring dengan kegigihan Abah Udju berkeliling desa.

Buku koleksi Abah Udju sudah cukup banyak dengan berbagai judul. ”Alhamdulillah koleksi buku dan majalah di perpustakaan ini bertambah. Sebagian ada donatur yang membawakan buku-buku ke sini,” ujar warga Desa Gunung Hejo RT 10/03, Darangdan, Purwakarta ini. Buku-buku koleksi Abah Udju tertata di ruang tamu berukuran 2,5 x 2,5 meter. Abah Udju menyebut ruangan itu sebagai perpustakaan mini. ”Inilah perpustakaan mini milik Abah yang bisa dipergunakan oleh masyarakat umum,” tutur Abah.

Suka Membaca
Abah mulai merintis mendirikan perpustakaan sejak tahun 1984. Kebetulan dia suka membaca. Demikian juga dengan dua putranya, Edi Rahman (33) dan Dede Firman (23). Abah yang saat itu bekerja di perkebunan coklat tak bisa mengelak dari permintaan putranya. Apalagi setiap hari putranya meminta dibuatkan gambar. Merasa waktu kerjanya terganggu, Abah kemudian membeli sebuah majalah anak-anak untuk putranya itu. ”Daripada harus menggambar terus, Abah belikan majalah anak. Edi sangat senang sekali,” tambah Abah Udju. Setiap bulan, Abah yang menerima gaji dari perkebunan harus menyisihkan untuk membeli buku. Lama-lama, majalah yang Abah beli terkumpul banyak.

 Selain itu, majalah yang dibeli Abah sudah tak dipakai lagi, majalah itu dinilai sudah tak menarik lagi. ”Karena banyaknya majalah, Abah bingung juga mau diapakan,” terangnya. Tadinya Abah mau membuangnya saja. Namun setelah dipikir lagi, isi majalah tersebut banyak sekali manfaatnya. Abah pun berniat menyewakan majalah-majalah tersebut. Niatan tersebut ternyata disambut baik oleh istrinya, Heni Saenih (49). Selain menambah penghasilan, juga dapat memberi wawasan bagi masyarakat yang membacanya. Namun, niatan Abah tak langsung membuahkan hasil. Malah masyarakat di sekitarnya acuh tak acuh dengan kehadiran Abah yang membawa majalah bekas.
Dimulai tahun 1986 sampai 1988, Abah berusaha mencari pembaca di lingkungan RT dan RW setempat. Tahun berikutnya, Abah ingin merambah ke desa lainnya. Lagi-lagi Abah berjalan kaki sambil membawa tas punggung dan beberapa majalah di pelukannya. Sama seperti di desa Abah, peminatnya ternyata kurang. Sampai suatu ketika, seorang anak SMA sengaja mencari Abah untuk mencari kliping bencana alam. ”Abah sangat senang sekali. Anak itu ternyata membuka mata Abah betapa pentingnya informasi,” akunya. Setelah mendapat bahan untuk klipingnya, si anak pun memberikan uang kepada Abah sebagai imbalannya.


Namun, Abah menolak dan memintanya untuk membawa teman-teman mereka untuk membaca majalah yang dibawa Abah. Ternyata permintaan Abah dipenuhi anak itu dengan membawa teman-teman mainnya untuk membaca majalah yang bawanya. ”Abah senang sekali saat itu, sampai ibu-ibu juga ikut membaca,” ujar Abah. Melihat sinyal positif tersebut, Abah kian bersemangat berkeliling desa, meski harus membagi waktu bekerja. Perlahan apa yang dilakukan Abah Udju disambut suka cita warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak sekolah. Ibu-ibu biasanya meminjam resep buku atau majalah resep masakan, sedang anak-anak suka buku atau majalah yang ada ceritanya.


Meski ada catatan siapa yang meminjam, majalah-majalah koleksi Abah kadang tak kembali dengan sempurna. Malah ada yang jilidnya terlepas dan halaman dalamnya tak lengkap. ”Kebanyakan mereka mengambil resep. Tapi tak apa. Yang penting bermanfaat,” akunya. Ternyata resep yang dirobek dari majalah Abah pun dipraktikkan. Bahkan, Abah mendapat sepotong kue dari seseorang yang mengaku telah merobek majalahnya. ”Akhirnya ia mengaku juga kalau merobek majalah Abah. Malah Abah senang bila majalah itu bermanfaat juga,” tutur Abah Udju.

Dirampok Preman Kampung
Selama berkeliling, banyak kejadian unik yang dialami Bah Udju. Termasuk saat ia dirampok sekelompok preman kampung. Ceritanya, suatu sore  di tahun 1996. Saat itu hujan turun, dan dia berteduh di sebuah warung yang di dalamnya ada banyak pemuda. Beberapa jam kemudian, begitu hujan reda, ia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Namun baru saja berjalan sekitar 100 meter dua pemuda besepeda motor memepet Udju. 
Pak, minta rokok?!” hardik salah seorang dari pemuda tersebut. 
Bah Udju berusaha tenang. Sambil berkata lembut, ia menyatakan bahwa dirinya tidak merokok. “Kalau begitu, saya minta uang!” kata pemuda yang satunya lagi dalam nada kasar. Tidak ingin berpanjang mulut, Bah Udju lalu memberikan uang Rp.5.000 kepada mereka. 
Masa cuma segini?!” Ditanya demikian, Bah Udju coba menjelaskan bahwa ia hanya punya uang Rp.6.500. Alih-alih merasa iba, para pemuda itu justru dengan kasar merebut buntalan kain yang dibawa Udju sambil langsung melarikan sepeda motornya. 
Diperlakukan seperti itu, Bah Udju tidak coba melawan. Ia pasrah. Di tengah sisa asap knalpot sepeda motor yang meludahi udara sekitarnya, ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga Tuhan melindunginya. “Saya putuskan untuk pulang saja  ke rumah saat itu,” kenangnya. 
Setelah sekitar 30 meter berjalan dari tempat kejadian, betapa terkejutnya Bah Udju saat melihat buntelan yang tadi dirampas para pemuda tersebut ada di pinggir jalan dalam kondisi isinya sudah berserakan. “Rupanya mereka membuangnya karena isi buntalan itu bukan barang berharga di mata mereka, tapi hanya buku dan majalah bekas,” ujar Bah Udju seraya tersenyum. 
Kendati sebagian buku tersebut basah karena air hujan yang menggenang di jalanan, Udju tetap tak tega untuk mengacuhkannya. Dengan hati-hati, ia pun memunguti satu persatu buku-buku yang berserakan itu dan kembali membawanya pulang. “Buku-buku itu ibarat hidup saya, jadi harus saya rawat sebaik mungkin,” katanya. 


Atas pengorbanannya, tahun 2009 Perpustakaan Nasional memberi Abah penghargaan sebagai Wahana Belajar Sepanjang Hayat dan juga berbagai penghargaan lainnya. ”Alhamdulillah pemerintah memberikan apresiasi terhadap aktivitas Abah. Semoga bermanfaat bagi semuanya,” akunya. Selain mengentaskan kebodohan di lingkungan sekitarnya, Abah juga berhasil mengantar anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi. Edi sudah menyelesaikan kuliahnya di Unpad, Bandung dan meraih gelar sarjana hukum. Sedangkan Dede tengah menyelesaikan kuliah di sebuah perguruan tinggi di Bandung.




[1] Tabloid Nyata. Abah Udju, Pustakawan Keliling dari Desa Gunung Hejo dalam http://nyata.co.id/kisah/abah-udju-pustakawan-keliling-dari-desa-gunung-hejo/ diakses pada Jumat, 22 Mei 2015; Pukul 15.29 WIB.

Sumber gambar dan video:
- http://nyata.co.id/wp-content/uploads/2013/02/Profil-Abah-Udju_ft.doni_.-13.jpg
-http://nyata.co.id/wp-content/uploads/2013/02/Profil-Abah-Udju_ft.doni_.warga-tengah-membaca-buku-dan-majalah-abah.-12.jpg
-https://dikabeast.files.wordpress.com/2014/01/img_8613.jpg
-https://dikabeast.files.wordpress.com/2014/01/img_8615.jpg
-https://41.media.tumblr.com/edf403aef2df64df9bf1cfe9b852ba8c/tumblr_nk0d0btNqi1rj6eweo3_500.jpg
-https://36.media.tumblr.com/cf28bec9c89b1f490da0c5cfa56929dd/tumblr_nk0d0btNqi1rj6eweo4_500.jpg
-https://www.youtube.com/watch?v=6uPrY3Sqm8w