Sabtu, 20 Juni 2015

Seleksi JPI Jawa Barat 2015: Tidak Hanya Sekedar Kompetisi!



oleh Alpiadi Prawiraningrat
Seleksi selalu erat kaitannya dengan kompetisi dan tidak pernah lepas dari sifat arogansi individu untuk menunjukan kualitas diri agar dianggap pantas dinilai sebagai pemenang hingga mengabaikan untuk menjalin relasi dengan lingkungan disekitarnya, namun hal itu tidak sepenuhnya terjadi pada seleksi Jambore Pemuda Indonesia (JPI) tahun 2015 yang telah mengajarkan bahwa: “selection process  it’s not only about the competition but also how to make a  good relation with the potential young generation. Hal penting lainnya adalah bahwa skala atau ruang lingkup kompetisi bukanlah menjadi mutlak orientasi utama, karena terpenting adalah bagaimana kita dapat belajar dan berbagi dalam proses seleksi tersebut.  Tulisan ini tidak hanya akan menjelaskan sedikit gambaran singkat tentang Jambore Pemuda Indonesia, tapi juga pengalaman penulis dalam mengikuti Seleksi Jambore Pemuda Indonesia (JPI) tahun 2015 tingkat provinsi Jawa Barat! Selamat membaca!


Apa itu Jambore Pemuda Indonesia (JPI)?
            Jambore Pemuda Indonesia (JPI) adalah salah satu program dari Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia.  Kata “Jambore” disini tidak selalu berkonotasi Pramuka karena lebih menekankan pada aktifitas  yang  memfasilitasi para pemuda berpotensi dari seluruh provinsi di Indonesia untuk berkumpul, berbagi pengalaman dan berkontribusi sosial secara nyata terhadap masyarakat.  Sehingga tidak perlu khawatir bagi yang tidak paham dengan Pramuka seperti sandi bendera atau Semapore ataupun urusan simpul tali-temali untuk membuat tandu.  JPI setiap tahunnya rutin dilaksanakan berdekatan dengan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober dengan lokasi yang berbeda-beda, sebagai contoh tahun 2014 dilaksanakan di Yogyakarta dan untuk tahun 2015 akan dilaksankan di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Akan tetapi, untuk menjadi delegasi pemuda dari provinsi tertentu tidaklah mudah karena terdapat beberapa tahapan seleksi baik ditingkat kabupaten hingga provinsi.    Untuk tingkat provinsi misalnya, peserta seleksi yang berhak ikut adalah peserta yang direkomendasikan dari kabupaten/kota dengan berbagai berkas lengkap yang harus dipersiapkan, berikut gambaran syarat lengkapnya:



Setiap provinsi memiliki perbedaan dalam proses seleksi. Sebagai gambaran untuk proses seleksi di provinsi Jawa Barat tahun 2015 diantaranya adalah test pengetahuan umum, test fisik, test kesenian, personal interview dan persentasi produk unggulan kabupaten/kota.  



Materi test pengetahuan umum terbagi dalam beberapa kategori, yaitu berkaitan wawasan nasional, seperti macam-macam kesenian, rumah adat, tarian dan rumah adat asal dari Indonesia, peraturan perundang-undangan tentang korupsi, Hak Asasi Manusia (HAM), dll; Sejarah Indonesia seperti candi, prasasti, proklamasi, sumpah pemuda dll; Wawasan regional seperti ASEAN, peta buta negara-negara ASEAN; serta wawasan international seperti declaration of human rights, runtuhnya kerajaan Turki Usmani, globalisasi, perkembangan idelogi-ideologi di dunia seperti kapitalisme, sosialisme dan liberalisme dan sebagainya.  Kemudian untuk test fisik, terbagi menjadi beberapa bagian seperti lari, push up dan sit up. Selanjutnya test kesenian, lebih memberikan kesempatan untuk menunjukan bakat seni peserta baik menari, menyanyi ataupun puisi yang memiliki korelasi dengan seni dan budaya daerah masing-masing. Adapun untuk personal interview merupakan wawancara mendalam terkait kegiatan dan pengalaman organisasi yang pernah diikuti.  Sedangkan untuk persentasi produk lokal adalah kesempatan menjelaskan dan mempromosikan produk unggulan yang berasal dari kabupaten atau kota kita masing-masing.

Sedikit Cerita dari Seleksi JPI 2015 tingkat Provinsi Jawa Barat!
            Rasa bangga sebagai seorang delegasi dari kabupaten asal yaitu Purwakarta selalu mengiringi ketika mengikuti suatu proses kompetisi, karena artinya terdapat suatu tanggungjawab dan kepercayaan dari kampung halaman kepada diri pribadi.  Begitupun pada kesempatan kali ini,  bersama dengan sahabat saya Joewitta Fitriana Syofyan (@JFSyofyan), kami dipercaya untuk menjadi delegasi kabupaten Purwakarta dalam proses seleksi JPI 2015 tingkat provinsi Jawa Barat yang dilaksanakan dari tanggal 9-11 Juni 2015 di hotel Alam Sari Permai, Bandung.  



Terdapat sekitar 41 orang delegasi dari kabupaten dan kota di Jawa Barat yang kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Pada bidang seni misalnya ada Arman dari kabupaten Subang dengan kemampuan menari akrobatik yang luar biasa, pasangan Dede dan Kakak Emesh dari kabupaten Bandung Barang dengan kemampuan tari kolaborasi yang romantis; Widik dari Garut dan Teh Irna dari Ciamis yang mampu pencak silat dengan tangguh. Kemudian Faisal atau lebih sering disebut Pepey dari Cimahi yang suaranya merdu ala-ala kolabirasi Afgan dan Josh Groban dan Shinta kabupaten Bandung yang ngawihnya bikin syahdu; juga Egi yang hebat sekali monolog ataupun sajak yang bikin merinding.  Tidak hanya dibidang seni, Kang Wishnu misalnya ternyata adalah salah satu pria pergerakan Jatinangor yang jago banget bikin aksi massa (baca: demo mahasiswa), maklum dia mahasiswa ilmu pemerintahan UNPAD. Serta para mojang dan jajaka keceh seperti kang Hilman dan Gita dari Kuningna, Septian dari Indramayu dan banyak lagi generasi muda berpotensi Jawa barat lainnya.


Meskipun berjudul seleksi yang erat kaitanya dengan kompetisi, tapi kesempatan menjalin relasi dengan generasi muda berpotensi adalah salah satu hal yang memotivasi saya untuk ikut cara ini.  Meskipun awalnya rada kagokan, namun seiring berjalannya waktu selain selfie disela-sela kompetisi, ada juga games yang bikin sensi, misal black magic-black magican andalan Egi. Selanjutnya duet Deo dan Widik dengan games yang clue-nya “Bumi itu bulat” atau “Ini angsa yah ini angsa” diikuti dengan penjumlahan angka yang bikin diri kita terasa amat bodo karean kompleks pisan untuk dipahami, serta nyaris selusin tebak-tebakan lainnya yang bikin au ah gelap. Tapi memang sih, soal tebak-tebakan duet pepey dan egi memang aduhay kaga ada lawannya, mulai dari tebakan kalau punya uang 50 ribu gue mau bikin atau beli apa?;  Tebakan logic berlevel (serasa kripik Ma’icih); typo-typo porno, eh parno maksudnya. Pokokna Pepey sang Jajaka Cimahi dan Egi sang Pecinta Dedek Emesh Juara-lah soal tebak-tebakan mah! 



Selain selfie dan tebak-tebakan berkualitas proses seleksi JPI 2015 Jawa barat juga dihiasi dengan cerita-cerita bernuansa, mulai dari yang bernuansa lucu dari Bang Iful tentang nangka, manggis, singa dan kancil, roman picisan Papah ingin mengetik namun akhirnya tulis tangan, selingan keripik Kanjo, hingga bernuansa mistis yang menjadi asal muasal terbentuknya kelompok 7 Manusia Harimau di kamar 403 yang diwarnai dengan fenomena hilangnya pepey dari kamar 403 yang diperkirakan pukul 02.00 pagi serta lantunan orkestra syahdu orkestra dari bang Iful dan Rim yang bikin merinding sakit hati. 


Meskipun yang terpilih hanya 12 orang yang terdiri dari 6 putera dan puteri untuk menjadi delegasi Jawa Barat di tingkat nasional, serta sekejapnya waktu perkenalan antara peserta tapi tidak membatasi ikatan persahabatan dan oleh karena itu, untuk lebih merekatkan tali silaturahmi sebagai bagian dari pemuda Jawa Barat, selesai acara kami memutuskan untuk nonton film yang ngehits kekinian yaitu Jurasic World dan nongsky bareng mengobrol ngaler ngidul berbagi cerita setelah nonton pagelaran seni di NHI setiabudi hingga larut malam.
Oleh karena itu, opini pribadi dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa “selection process  it’s not only about competition but also how to make a  good relation with the potential young generation. Terhadap saya pribadi, seleksi Jambore Pemuda Indonesia tahun 2015 tingkat provinsi Jawa Barat telah mengajarkan tentang pentingnya persahabatan dari sekedar adu kekuatan dan kemampuan dalam sebuah kompetisi, serta menghargai masing-masing potensi adalah pelajaran yang juga berarti dari hanya menunjukan kehebatan diri sendiri.

Renungan dari Seleksi  JPI 2015 Provinsi Jawa Barat!
            Selain dari persahabatan, cerita lucu, mistis dan tragis serta pengalaman-pengalaman menyenangkan lainnya dari kegiatan seleksi JPI Jabar 2015. Terdapat salah satu hal menarik lainnya berupa pertanyaan dari salah satu panitia seleksi pada saat personal interview kepada saya yang kurang lebih seperti ini: “Keyakinan apa yang membuat kamu ingin mengikuti JPI yang skalanya nasional sedangkan berdasarkan CV bahwa kamu telah memiliki cukup banyak pengalaman di level regional bahkan internasional?
            Mungkin bagi sebagian orang pertanyaan tersebut sepele dan sederhana, tapi bagi saya pertanyaan tersebut cukup menyulitkan sehingga membuat saya terdiam dan merenung sesaat dalam waktu yang singkat. Hingga akhirnya nasehat dari Ayah-lah yang terlintas untuk menjadi jawaban, yang kurang lebih seperti ini:
            “Saya teringat akan pesan yang selalu disampaikan ayah kepada putra-putranya, bahwa Jalma Nangtung ku Elmuna, Dampal Ngampar ku Amalna yang artinya bahwa seseorang itu dapat berdiri karena ilmunya, dan menginjakkan kaki oleh amalnya.  Ilmu erat kaitanya dengan belajar dan proses belajar dapat diperoleh pada tempat, lingkungan, kondisi, skala atau level apapun baik di tingkat internasional, regional, nasional bahkan lingkungan terkecil seperti keluarga sekalipun selalu ada nilai-nilai pelajaran dan ilmu yang dapat dipetik.  Bagi saya pribadi, skala atau level acara tidak selalu menjadi prioritas utama, karena terpenting adalah Purwadaksina-nya. Purwa berarti memulai dan daksina berarti mengakhiri, yaitu bagaimana saya memulai (purwa) untuk mengikuti kegiatan ini dengan niatan belajar mencari ilmu sehingga dapat berdiri atau membanggakan, tapi tidak lupa untuk mengakhirinya (daksina) dengan berbagi atau berkontribusi dari ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh (dampal ngampar ku amalna), karena setelah hal itu dilakukan kebahagiaan yang diperoleh tidak hanya sekedar  kebanggan dari keikutsertaan dalam sebuah event dengan skala atau level tertentu, tapi lebih dari itu, yang akan kita temukan dan dapatkan setelah semuanya selesai secara paripurna, sebagaimana lirik dalam lagu Muse berjudul Dead Inside bahwa “Light only shines from those who share.”  Tinggal tugas kitalah selanjutnya untuk menemukan dan mendapatkan cahaya (light) seperti apakah yang akan membuat kita bersinar (shining) dan kuncinya adalah share berbagi, berkontribusi.
                Nampaknya sekian dulu tulisan saya terkait JPI 2015 tingkat provinsi Jawa Barat. Mohon maaf rada panjang, maklum curahan dari hati banget. Hehhehehe. Cag! Hatur nuhun! Salam Semangat!

Rabu, 27 Mei 2015

Rita, Teman Baru yang Berbeda



oleh Alpiadi Prawiraningrat
Tulisan yang hendak diangkat kali ini akan menjelaskan tentang pengalaman pribadi saya dalam upaya menjalin sebuah komunikasi dengan “individu” yang sangat sering dijauhi oleh sebagian orang karena dinilai sebagai seseorang yang tidak normal atau tidak waras.  Individu yang dianggap tidak normal tersebut akhirnya menjadi seorang “teman” baru dan sosok yang memberikan pemahaman baru bagi saya dalam menyikapi persoalan kehidupan.  
Makan Bakso dengan Rita (1)

Teman baru yang saya miliki ini berbeda dengan sahabat-sahabat yang telah saya miliki sebelumnya, karena ketika diajak ngobrol atau berkomunikasi diperlukan sedikit ekstra keras untuk memahami setiap kalimatnya atau bahkan harus bersabar karena terkadang teman baru saya ini idak merespon atau memberikan jawaban yang sangat membingungkan ketika ditanya tentang suatu hal atau asik dengan dunianya sendiri. Sikap inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa teman baru saya ini seringkali dijauhi oleh kita sebagai orang-orang yang beranggapan bahwa dirinya normal dan sebagai kelompok mayoritas di masyarakat ini, karena memang teman baru saya ini  adalah individu yang memiliki gaangguan kejiwaan atau masyarakat menyebutnya sebagai “orang gila” dalam bahasa Indonesia atau “nugelo” dalam bahasa Sunda.  Akan tetapi, meskipun teman baru saya ini adalah orang gila secara kontruksi sosial, namun based on the basic dia juga adalah manusia yang bagaimanapun merupakan individu yang sama dengan kita dan rasa ingin tahu yang begitu besar tentang pola pikir dan kegemaran melakukan tindakan yang anti mainstream telah menuntun saya untuk menjalin komunikasi dengan “teman” baru ini. 

Awal Pertemuan dan “Sekilas” tentang Teman Baru
Apabila ditanya siapakah naman teman baru saya itu? Saya akan berpikir cukup lama karena nama dari teman baru saya ini selalu berganti-ganti, kadang bernama Rita, Fani, Neneng, Susi, Nia Santi dan masih banyak nama lainnya, namun saya pribadi dan penduduk di desa tempat saya tinggal lebih sering memanggilnya sebagai Rita.  
Rita saat makan entah apa (1)
Pertama kali bertemuan dengan Rita sekitar bulan Oktober tahun 2014 karena dia sering lalu lalang  di depan rumah saya dan tidak jarang duduk di bale depan rumahm karena kebetulan keadaan rumah saya terbuka dan tidak memiliki pagar.   Awalnya saya risih terhadap keberadaan Rita yang sejujurnya beraroma kurang sedap dan membuat khawatir, serta ragu untuk mengajaknya mengobrol ditakutkan emosinya tidak stabil dan bertindak kasar,  tetapi didorong rasa penasaran dan keingintahuan yang begitu tinggi tentang Rita yang sering dianggap individu tidak normal akhirnya saya beranikan diri untuk mendekati dan mengajaknya berkomunikasi.
Dari keseringan bercakap ngalor ngidul akhirnya saya memperoleh beberapa informasi tentang  latar belakang kehidupan Rita yang mungkin bisa diperdebatkan tentang valididtasnya.  Rita berasal dari tempat beranama Kuningan Jakarta Surabaya, begitulah dia menyebut tempat asalnya.  Seorang teman laki-laki dan perempuanlah yang membawa Rita ke desa saya dan  memaksanya turun dari kendaraan yang entah apa jenisnya, yang pasti orang yang menyuruhnya turun selalu jahat dan kasar kepadanya.
Rita pernah menceritakan jika dirinya memiliki keluarga. Seorang suami dan 2 (dua) orang anak (saya lupa nama anak yang disebtukannya).  Berdasarkan penuturanya,  kedua anaknya tinggal di Tegal bersama suaminya dan Rita tidak diperkenankan untuk bertemu.  Pernah suatu hari saya memergoki Rita sedang memperhatikan anak-anak main dengan sesekali tersenyum dan tertawa dengan wajah bahagia, entah apa yang dipikirkanya mungkin sebuah kerinduan.  Selain itu, dia juga mengungkapkan kalau ketika di kampung asalnya bernama Kuningan Jakarta Surabaya, dia selalu membantu orang tuanya menjadi petani dan mengurusi sawah.
 Rita Saat Makan Bakso
Meskipun masih diragukan tentang penjelasanya mengenai latar belakang dirinya dan keluarganya, apabila mengingat kondisi kejiwaan dan pikirannya yang terganggu. Akan tetapi satu hal yang penting dari penjelasan Rita adalah bahwa dia juga memiliki kenangan tentang perjalanan hidupnya. Tentang keabsahanya, itu bisa dipikrkan nanti tapi kenangan itulah yang menjadi salah satu dasar bahwa Rita adalah manusia yang sama dengan kita.  Tugas kita sebagai sesama manusia tidak perlu memperdebatkan latar belakangnya, tapi lebih upaya menghargai bahwa kita adalah sesama manusia dan makhluk hidup ciptaan yang maha kuasa.

Perlakuan Kasar Warga terhadap Rita
Sebagai individu yang dianggap berbeda karena dinilai orang gila, berbagai perlakuan pernah diterima Rita dari warga desa Cibatu khususnya tindakan kasar yang membuatnya menjadi terkesan individu yang liar.
Sebagai contoh pernah suatu hari sekitar pukul tiga dini hari, saya dan ayah terbangun karena mendengar suara bising dari luar yaitu suara seseorang berteriak-terik dengan intonasi penuh kesal dan marah sambil terdengar sesekali menangis dengan struktur kalimat yang diungkapkanya tidak jelas. Ternyata individu itu adalah Rita.  Awalnya saya sendiri yang memberanikan diri sendiri mendekati dan menegurnya, namun dia tetap berteriak-teriak kasar dan sesekali mengeluarkan kata-kata umpatan. Sampai akhirnya ayah saya keluar dan menegur dengan intonasi tinggi yang membuat Rita akhirnya diam.  Setelah beberapa saat dan nampak tenang akhirnya dia menjelaskan kalau dirinya kesal karena ada yang melemparinya dengan batu bata, bunga kamboja, rambutan, serta kerikil-kerikil kecil lainnya.  
Pernah juga pada suatu sore ketika saya mengantarkan makanan untuk Rita dari Ibu, tetiba dia menunjuk beberapa anak remaja desa saya yang kebetulan lewat di depan kita bahwa mereka selalu kasar dan melemparinya dengan batu-batu dan rambutan. 
Bahkan pernah beberapa hari Rita tidak terlihat dari tempat biasnya dia tinggal, ternyata Rita ke hutan karet yang lokasinya tidak terlalu jauh dari desa saya. Ketika ditanya alasanya ke hutan karet, karena ada orang yang membentak dan mengancamnya dengan benda tajam untuk meninggalkan tempat dimana Rita selalu berdiam. 
Begitupun dengan penuturan yang cukup bernuansa mistis, ketika suatu subuh Ibu saya kaget karena tiba-tiba ada Rita sedang tertidur di teras pinggir rumah. Ketika ditanya alasanya, dia menuturkan kalau semalam banyak sekali orang datang ke tempat dia tinggal tapi mukanya jelek-jelek dan kebanyakan laki-laki tinggi besar yang kulitnya berwarna hitam kotor. Orang-orang tersebut kata Rita sangat berisik tapi Rita tidak mengerti apa yang dibicarakanya yang pasti mereka membuat Rita tidak nyaman karena kepalanya ditendang-tendang dan kaki serta rambut dia ditarik-tarik oleh sekelompok orang-orang tersebut dan menyuruh Rita pindah dulu sementara waktu.

Mengubah Paradigma Warga terhadap Rita
Saya percaya bahwa komunikasi dan sosialisasi yang baik dapat dijadikan sebagai salah satu cara yang efektif untukmengubah prilaku seseorang ataupun masyarakat.  Selain itu, mengawalinya dari diri sendiri sebagai “kelinci percobaan” dalam mempraktekan suatu perubahan merupakan salah satu langkah yang efektif.  Begitupun dengan konteks mengubah paradigma masyarakat tempat tinggal saya terhadap Rita yang saya awali dari diri sendiri, seperti hal paling dasar adalah mengajaknya berkomunikasi atau mengobrol, mengajaknya makan bersama, atau memberikan beberapa benda keperluanya seperti pakaian dan sebagainya yang dengan sengaja saya lakukan ditempat terbuka dan dapat dilihat oleh banyak orang seperti tetangga dan keluarga.  Hal tersebut sebagai bukti bahwa Ritaa adalah juga manusia dan bila diperlakukan baik-baik dia juga akan meresponya dengan baik pula, karena hakikat dasar antara kita dan Rita sama, yaitu manusia.  Hanya sikap dan pola pikir yang membuat kita berbeda, itu saja!

Makan Bakso dengan Rita (2)


Tidak perlu menunggu waktu begitu lama hingga akhirnya masyarakat di dekat tempat tinggal saya dapat menerima Rita. Berawal dari lingkungan terdekat yaitu keluarga seperti Ibu yang pada mulanya takut kepada Rita, karena dikhawatirkan dalam pemikiran Ibu saya bahwa tiba-tiba Rita menjadi liar dan membunuh akhirnya perlahan tapi pasti ibu mulai menerima Rita yang dibuktikan dengan sering memberikan makanan. Begitupun dengan tetangga, Bi sapnah contohnya seorang pemilik warung semabko dekat rumah yang awalnya jijik akhirnya menjadi indvidu yang paling peduli terhadap Rita, mulai dari memberikan makan, sedikit uang hasil daganganya, hingga pakain bekas dan kerudungnya.  Katanya agar Rita lebih tampak lebih manusiawi penampilannya.




Cinta Mengobrol dengan Rita  
 
            Begitupun dengan keponakan saya bernama Cinta yang masih kelas 2 SD yang akhirnya berani mengajak Rita mengobrol dan tidak sungkan memberikan barang-barang bekas milik bundanya untuk dikenakan kepada Rita.
           Selain itu juga ibu solo, yang seoang pedagang makanan warteg (warung tegal) yang awalnya risih dengan keberadaan Rita juga menjadi peduli dengan sering memberikan makanan, bahkan mengajarkan Rita cara menggunakan uang.  Walaupun menurutnya sangat susah sekali mengajari individu menggunakan uang.
           Dari berbagai perubahan sikap orang terdekat tersebut, saya pribadi merasa cukup puas dan berbangga hati.  Meskipun saya dan orang-orang terdekat tidak dapat mengubah sikap, kejiwaan dan pola pikir Rita, tapi setidaknya dapat sedikit mengubah pola pikir masyarakat “normal” terhadap individu seperti Rita, hal tersebut bagi saya pribadi sudah lebih dari cukup.

Belajar dari Rita
Rita bukan sosok individu yang sempurna, dan hal tersebut sama seperti kita juga bukan? Yap, tidak ada manusia yang sempurna. Tapi belajar bukankah dapat diperoleh dari mana saja kan? Termasuk dari seseorang seperti Rita.  Dari Rita saya dapat belajar dan memahami berbagai hal. Pertama adalah sikap apa adanya dan menjadi diri sendiri atau  be your self. Terkadang seseorang ingin terlihat hebat dan luar biasa dengan cara mengikuti perspektif orang lain padahal sebetulnya dia tidak nyaman atau bahkan tidak mampu mengikuti perspektif orang lain tersebut hingga akhirnya memaksakan dan menjadi beban hidup dan pikiran. Tapi coba lihat Rita, dia santai dengan dunianya dan menjadi dirinya sendiri tanpa menghiraukan orang lain.   Hal ini bukan mengajak untuk menjadi seseorang yang individualis, tapi kepada sikap yang lebih menghargai diri sendiri dan yakin pada kemampuan diri sendiri.

Rita memakan entah apa

Kedua, selalu bahagia karena ini hanya kehidupan dunia.  Meskipun Rita tidak melakukan ibadah dan tidak memiliki apa-apa bahkan badan kumal dan baju sangat alakadarnya, tanpa emas hanya gelang-gelang karet hasil memungut di sembarang tempat, tapi dia selalu terlihat bahagia dan mungkin Rita adalah salah satu orang paling bahagia di dunia.  Bahkan saya sempat berpikir liar, apabila koruptor-koruptor dan penjahat negeri lainnya digantikan dengan individu-individu seperti Rita, Indonesia akan jauh lebih aman, siapa tahu bukan?. 
Oleh karena itu, menutup tulisan ini satu hal lain yang hendak saya ungkapkan bahwa meskipun Rita adalah teman saya yang berbeda tapi dari perbedaannyalah banyak hal yang saya pelajarai, khususnya cara pandang terhadap berbagai kehidupan di dunia. Sehingga menjadi berbeda itu tidak menjadi masalah, selama kita tahu bagaimana kita menempatkan hal berbeda tersbut pada situasi dan kondisi yang tepat, karena perbedaan juga merupakan suatu hakikat dalam kehidupan juga bukan? terima kasih Rita! Salam semangat!

Minggu, 24 Mei 2015

#ExplorePurwakarta: Opini dan Refleksi dari Pesona Alam Perbatasan Curug Ponggang



 oleh Alpiadi Prawiraningrat
Selalu menarik untuk membahas potensi pariwisata daerah kabupaten atau kota di Jawa Barat karena setiap daerah memiliki potensi beragam baik kuliner, adat istiadat ataupun alam. namun, disamping keberagaman potensi tersebut terkadang terdapat hal yang dapat menjadi bahan untuk direnungkan dan dipahami lebih mendalam, baik dari segi pengembangan potensi pariwisata maupun refleksi yang diperoleh setelah menikmati potensi wisata tersebut.  Oleh karena itu, tulisan ini akan sedikit menceritakan tentang sebuah pesona alam sebagai salah satu potensi pariwisata yang mulai terlupakan oleh masyarakat bernama curug Ponggang[1] yang terletak diperbatasan kabupaten Purwakarta dan kabupaten Purwakarta, provinsi Jawa Barat. 

Perjalanan Menuju Curug Ponggang
Keinginan untuk mengunjungi curug Ponggang berawal dari sebuah ketertarikan terhadap Display Picture (DP) seorang teman yang sudah berkunjung ke tempat tersebut. Kemudain saya bertanya dan mencari tahu lokasi serta cara menuju lokasi curug Ponggang baik secara langsung maupun searching di internet yang ternyata informasi tentang curug Ponggang masih sedikit. Setelah dirasa memperoleh informasi yang cukup, selanjutnya saya memutuskan untuk lakukan perjalanan ke Curug Ponggang pada tanggal 30 November 2014 (kalau berdasarkan tanggal yang tertera difoto sih tanggal segituan).   Pertanyaan random-nya, dengan siapakah saya berangkat? Jawabanya adalah sendiri.  Ya, untuk kali ini saya melakukan perjalanan sendirian itung-itung self reflection-lah di perjalanan (padahal mah alesan ga punya temen dan gebetan).
 Kantor Desa Ponggang

Terdapat dua cara yang dapat dijadikan referensi menuju curug Ponggang. Pertama, apabila titik poin keberangkatan dari kota Purwakarta, dapat mengambil jalan yang ke arah Wanayasa. Setelah tiba di Wanayasa, ambil pertigaan ke arah Subang dengan terus lurus sampai akhirnya melewati gapura perbatasan antara kabupaten Purwakarta dan kabupaten Subang yang kemudian akan menemukan sebuah gank yang bersebrangan langsung dengan jalan menuju objek wisata curug Cijalu. Jadi, jika dari arah Purwakarta gank menuju curug Ponggang ini berada di sebelah kiri, sedangkan curug Cijalu sebelah kanan.  Lalu ambil lurus hingga akhirnya menemukan kantor desa Ponggang. Setibanya disana, dapat ditanyakan langsung kepada warga yang sudah sangat familiar dengan curug Ponggang. 
Sedangkan referensi jalan kedua dengan titik poin kota Purwakarta dapat menuju curug Ponggang dengan belok di Legokhuni sebelum memasuki kota Wanayasa kalau dari arah Purwakarta. Masuk menuju kecamatan Kiara Pedes via Sate Maranggi Pareang. Selepas warung makan tersebut, kurang lebih 500 meteran, belok kanan menuju Kantor kecamatan Kiara pedes. Di pertigaan kecamatan, lurus saja dengan mengambil jalur yang menuju desa Ciracas. Memasuki desa Ponggang,jalan menurun mulai mendominasi, sampai akhirnya mentok di depan sebuah Mesjid kecil, kampung Ponggang. Tapi perjalanan belum selesai, masih  diperlukan aktivitas berjalan kaki sekitar 500 meter untuk tiba di curug Ponggang menyusuri jalan setapak yang sudah penuh dengan semak belukar.

Tiba di Curug Ponggang
Akhirnya tiba juga di curug Ponggang yang merupakan air terjun yang menjadi batas alam antara kabupaten Purwakarta dan kabupaten Subang.  Curug ini masih sangat asri dengan aliran air yang berasal dari sungai Cilamaya.  Hal menarik dari curug Ponggang ini adalah bentuknya yang tidak seperti curug atau air terjun kebanyakan yang biasanya air langsung turun lepas dari atas tebing, akan tetapi lebih seperti air yang keluar dari gorong-gorong alami. 









Pesona alam curug Ponggang


Tidak hanya menikmati keindahan alam curug Ponggang. Saya juga bertemu dengan beberapa penduduk setempat yang dari merekalah saya tidak hanya memeperoleh informasi tapi juga mereka berbaik hati membuatkan saya jembatan untuk menyebrang mengingat pada saat itu aliran air curug Ponggang sedang cukup deras. Adapun informasi yang diperoleh terkait dengan kejayaan curug Ponggang dimasa lalu, yang mana Curug ini pernah begitu populer di media dan banyak wisatawan lokal yang berkunjung pada tahun 2002 sampai 2005. Selama tiga tahun tersebut, tempat ini bisa di jadikan andalan penghidupan penduduk Ponggang. Sebagai bukti kejayaan popularitas curug Ponggang adalah jalanan tembok sepanjang 600 meter dari tempat parkir sampai lokasi.  Selain itu, beberapa kali menjadi objek social project berupa pengabdian mahasiswa dari beberapa ubiversitas yang berkunjung ke curug Ponggang,  tapi setelah itu entah kenapa hari ini yang terlihat adalah semak belukar dan jalan tembok yang licin berlumut. Entah karena apa, curug ini sekarang ditinggalkan begitu saja.
 
Bertemu warga setempat dan dibuatkan jembatan

Beberapa alasan pun muncul sebagai penyebab menjadi tidak populernya curug Ponggang, mulai dari faktor akses menuju lokasi yang berkaitan dengan transportasi yang sangat minim, sumber daya manusia khususnya masyarakat, hingga yang cukup menarik adalah alasan mistis bahwa terdapat kekuataan gaib yang menjaga curug Ponggang.  Berdasarkan penuturan warga setempat,  masing-masing bagian wilayah baik area kabupaten Purwakarta ataupun kabupaten Subang dijaga oleh makhluk tinggi besar yang memegang gada atau semacam pentungan. Selain itu,  mulut curug sebagai jalur keluarnya air adalah pintu gerbang atau jalan ke alam lain yang terkadang membuat pengunjung tidak nyaman dan ingin segera meninggalkan tempat tersebut. Namun demikian, saya mencoba menarik keyakinan mistis tersebut kepada opini pribadi yang lebih logis tentang kurang optimalnya pengembangan potensi pariwisata alam curug Ponggang.


Opini terhadap Pengembangan Potensi Wisata Curug Ponggang
Terlepas dari alasan mistis yang diyakini oleh masyarakat sebagai cerita turun temurun menjadi warisan tradisional.  Saya sendiri berusaha beropini pada alasan yang lebih logis. Pertama, lokasi curug sebagai perbatasan alami dua kabupaten. Meskipun namanya mengandung kata Ponggang sebagai desa  yang dekat dengan curug akan tetapi berdasarkan penuturan salah satu warga bahwa sebetulnya curug itu hanya sebatas garis tanda batas saja yang menjadikan pengembangnya terabaikan sehingga secara garis pertanggungjawaban pengelolaan curug masih belum jelas.
Kedua, alasan mistis sebagai kontruksi sosial yang kemudian menjadi kesepakatan masyarakat. Hal tersebut tidak dapat dielakan dalam konteks pengembangan pariwisata tidak hanya pada curug Ponggang, tapi juga di Indonesia. Alasan ini menjadi salah satu rumor yang dikembangkan. misalnya bahwa suatu kawasan potensi alam air terjun tidak dapat dikembangkan menjadi objek wisata karena akan mengganggu Buto Ijo penunggu tempat tersebut dan dapat menyebabkan kesialan apabila dilanggar.  Hal tersebut menjadi sebuah keyakinan dan kerap kali menjadi faktor penghambat pengembangan tidak optimalnya pengembangan pariwisata.  
 
Kunjungan mahasiswa ke curug Ponggang sekitar tahun 2010 (source: wikyrjaf.blogspot.com)

Ketiga, terkait dengan semangat sesaat terhadap pengembangan suatu objek wisata.  Seringkali antusiasme terhadap implementasi kebijaka pengembangan potensi wisata oleh pemerintah hanya terjadi pada awalanya saja atau bahasa kecehnya “respon sambal, yang berarti sangat antusias diawal diawal pembangunan dan pelaksanaan kemudian mengalami kejenuhan setelah beberapa waktu tertentu hingga akhirnya objek wisata tersebut terabaikan.  Oleh karena itu, pengembangan suatu objek wisata memerlukan komitmen yang tinggi, artinya proses pengembangan harus sustainable dan berkelanjutan.  Tidak hanya soal infrastruktur, sumber daya manusia khususnya masyarakat yang berada dilingkungan  objek pariwisata juga perlu untuk diberdayakan dan diberikan edukasi bagaimana menjadi pihak yang berperan penting dalam membuat pengunjung nyaman.  Hal paling dasar adalah keramahtamahan dan keterbukaan dalam memberikan informasi kepada pengunjung, dibandingkan dengan orientasi ekonomi untuk mendapat keuntungan rupiah dari hadirnya wisatawan. 
Asumsi tersebut muncul didasarkan pada gejala yang biasanya terjadi pada pengembangan objek wisata yang melibatkan masyarakat setempat, dimana gejala money oriented menjadi salah satu penyebab kurang optimalnya pengembangan suatu objek wisata, karena masyarakat setempat hanya akan bergerak apabila memperoleh keuntungan ekonomi saja, sedangkan terlepas dari itu mereka akan sangat acuh.  
Opini lainnya adalah terkait dengan  promosi  objek wisata yang tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dengan dinas terkait, tetapi juga  masyarakat dan pengunjung.  Pada era teknologi modern saat ini, melakukan promosi adalah sesuatu hal yang sangat mudah karena cukup dengan mencantumkan gambar atau foto objek wisata di media sosial, seperti facebook, twitter ataupun instagram sehingga membuat orang lain tertarik.  Hal demikian nampaknya belum terimplementasikan pada upaya promosi curug Ponggang dan dapat dijadikan solunsi alternatif dalam mempromosikan curug Ponggang saat ini.
Akan tetapi, hal yang perlu diperhatikan dalam aktivitas promosi tersebut tidak hanya pada hal menarik wisatawan untuk berkunjung, tapi juga melakukan social campaign atau kampanye sosial untuk menunjukan hal yang perlu diperhatikan sebagai bentuk kepedulian terhadap objek wisata Curug Ponggang.  Dengan demikian diharapkan pengembangan objek wisata di Jawa Barat dapat lebih optimal.


Refleksi  dari Curug Ponggang
Disamping melahirkan opini terhadap pengembangan suatu objek wisata. Pengalaman melakukan perjalanan ke curug Ponggang telah membawa saya kepada perenungan cukup dalam tentang dua hal.  Pertama, berkaitan dengan rasa syukur terhadap karunia Tuhan terhadap rahmat yang diberikan berupa keindahan potensi alam yang begitu luar biasa tdi Jawa Barat. Oleh karena itu adalah tugas kita sebagai manusia khususnya generasi muda yang apabila memang tidak mampu mengembangkannya menjadi lebih besar, minimal adalah menjaga dan melestarikanya sehingga pesona dan kebermaanfaatan curug Ponggang dapat dinikmati oleh generasi Indonesia di masa depan.
Kedua, berkaitan dengan perbatasan yang dalam pemikiran saya selalu memiliki polemic tersendiri, baik ditingkat regional ataupun lokal. Pada skala regional misalnya para masyarakat Indonesia di perbatasan negara ataupun yang terjadi di perbatasan negara lain yang nasibnya seringkali terabaikan.  Begitupun dengan curug Ponggang, yang meskipun memiliki potensi alam yang cukup besar untuk dikembangkan akan tetapi lokasinya yang menjadi garis batas alam bagi dua kabupaten di Jawa Barat ini, nasibnya juga terpinggirkan.  Secara pribadi nampaknya tidak begitu bijak apabila hanya  menyalahkan salah satu pihak tentang kurang optimalnya pembangunan objek wisata dan menentukan kewajiban siapa yang seharusnya merawat.  Sehingga, lebih baik menjadi self reflection atau refleksi bagi diri diri sendiritentang apa yang dapat saya lakukan sebagai generasi muda untuk mengembangkan objek wisata curug Ponggang?  Hal sederhana yang mungkin dapat dilakukan hanya berkunjung dan menulis tentang curug Ponggang tersebut. Meskipun hal tersebut tidak cukudp memberikan perubahan yang signifikan, tapi saya berharap bahwa  masyarakat khusunya pemuda lain minimal dapat mengetahui bahwa di kampung halaman tempat tinggalnya terdapat potensi alam yang patut disyukuri dan dijaga sebagai bentuk terimakasih dan kontribusi aksi nyata dalam menjaga bumi pertiwi. Hatur nuhun! #ExploreLocalTurism #UP! #ExplorePurwakarta


[1] Curug dalam bahasa Indonesia berarti Air Terjun.