Senin, 07 Desember 2015

"SUMBER AIR PANAS CIRACAS PURWAKARTA: RENUNGAN POTENSI ALAM DAN PENGANGGURAN"

oleh Alpiadi Prawiraningrat


Perjalanan kali ini diawali dengan rasa penasaran terhadap salah satu potensi pariwisata sumber air panas yang ada di Purwakarta. Emang Purwakarta punya sumber air panas? Sumuhun! Tidak banyak yang tahu kalau kabupaten Purwakarta memiliki sumber air panas yang konon sudah ada sejak jaman dahulu kala. Namun sangat disayangkan, sumber air panas ini kurang dikelola dengan baik sehingga terkesan diabaikan. Padahal sumber air panas ini memiliki potensi sebagai salah satu objek pariwisata di Purwakarta. Bersama dua kawan saya lainnya, yaitu partner sejati dalam ngebolang Devian dan juga Izzan ysng kebetulan ketiganya amsih berstatus “pengangguran bergelar”. Kita bertiga mencoba melakukan eksplore ke sumber air panas tersebut.
Dimana Lokasinya?
Lokasi sumber air panas Purwakarta terletak di desa Ciracas, kecamatan Kiara Pedes. Terletak ±8 km dari Situ Wanayasa  atau sekitar  45 kilometer dari pusat kota Purwakarta. Lokasinya sebetulnya cukup mendukung untuk menjadi tempat wisata, karena berada  di kaki bukit yang dikelilingi oleh pepohonan dan hamparan sawah dengan udara yang sejukn khas pedesaan dengan infrastruktur jalan yang mulus. Pokoknya suasana tempatnya menenangkan jiwa dan ragga.
 
Adapun rute menuju air panas Ciracas dari pusat kota Purwakarta dapat mengambil jalur ke arah situ Wanayasa. Beberapa meter setelah melewati situ wanayasa  terdapat pertigaan (lurus ke arah bojong, sedangkan belok kiri ke arah Kiara Pedes atau Subang). Nah, kita ambil jalan ke kiri dengan terus lurus melewati sebuah pesantren (lupa euy namanya) sampai akhirnya menemukan gank di sebelah kiri (dekat belokan) yang berdekatan dengan gapura perbatasan antara kabupaten Purwakarta dan Subang. Jangan ragu, langsung saja  ambil jalan tersebut dengan terus lurus menyusuri area pesawahan, hutan, rumah penduduk hingga  menemukan pertinggaan menuju ke desa Kiara Pedes (sebelah kiri), ditandai dengan gapura dan menuju lokasi sumber air panas ke sebelah kanan.  Kita mah ambil kanan aja, karena beberapa puluh meter dari pertigaan tersebut adalah lokasi pemandian air panas Ciracas.
Pertigaan menuju Sumber air panas Ciracas (ambil sebelah kanan)
Pemandangan di belakang sumber air panas Ciracas
Akhrinya Tiba!
            Di tempat ini terdapat sekitar 12 titik sumber mata air panas (hot spring), beberapa di antaranya berlokasi di pematang sawah milik masyarakat. Menurut keterangan penduduk setempat, mandi di sumber air panas alam tersebut di samping dapat memberikan kesegaran jasmani juga dapat memberikan penyembuhan untuk pengobatan penyakit kulit, rematik, pegal-pegal dan lain sebagainya.

 Papan petunjuk sumber air panas Ciracas
Kita bertiga tidak langsung menceburkan diri akan tetapi langsung merapat ke warung sate maranggi yang terdapat di dekat lokasi sumber air panas.  Biaslah ngobrol ngaler ngidul, mulai dari pengalaman kuliah dimana sekarang kita sudah menjadi “Pengangguran Bergelar”, menceritakan kenangan-kenangan jaman SMA (kebetulan kita satu sekolah), karir dimasa depan, beberapa teman-teman yang sudah sukses bekerja, sampai renungan nasib susahnya mencari kerja (bagian ini touching heart pisan). Hingga akhirnya kita menyimpulkan bahwa semua akan indah pada waktunya, sesuai dengan porsinya, serta tanpa disadari waktu ini cepat sekali  berlalu dulu kita masih pake seragam putih abu, sekarang mencari kerja demi sebuah gelar baru bernama “hidup maju”.

 
 Tempat pemandian air panas Ciracas 

 Tempat pemandian air panas Ciracas 
Puas menyantap sate maranggi, kitapun bergegas untuk berendam. Akan tetapi sesampainya di pintu masuk kolam (sebetulnya kaga ada pintunya), kita melihat ada seorang bapak-bapak yang juga sedang berendam dengan keadaan (naked) layaknya “dede bayi” yang sedang berendam di bak miliknya. Meskipun sesama lelaki perkasa, nampaknya agak risih juga jika masuk dan berendam bersama dengan “dede bayi” dewasa yang tidak lagi lucu. Akhirnya, kita memutuskan untuk mengurungkan niat mandi di sumber air panas tersebut dan hanya merendam kaki saja sebentar. Muncul ide random untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Ciater Subang. Tapi, karena sudah sore akhirnya terpakasa kita batalkan dan memilih untuk menyambangi Curug Cijalu yang lokasinya tidak jauh dari tempat tersebut [cerita di curug Cijalu masih diproses]

Pengelolaan Kurang Optimal
Sumber air panas Ciracas sebetulnya memiliki potensi untuk dijadikan sebuah objek wisata di Purwakarta. Akan tetapi, potensi yang dimiliki oleh sumber air panas ini kurang begitu mendapat dukungan oleh masyarakat setempat dan pemerintah daerah. Masyarakat misalnya masih membuang sampah sembarangan di sekitar lokasi tersebut, sehingga terlihat kotor dan kumuh. Begitupun dengan pemerintah kabupaten Purwakarta. Meskipun dari segi infrastruktur jalan sudah sangat baik, namun pembangungan pada objek sumber air panas masih sangat kurang. Sebagai contoh, pemandian air panas ini tidak dilengkapi pintu dan bahkan terkesan seperti pemandian umum, serta bangunanya kurang menarik perhatian pengunjung dan hanya bertuliskan dari papan bekas dengan cat alakadarnya.  

 Bangunan lokasi sumber air panas Ciracas yang kurang menarik (tampak samping)
Sampah di sekitar pemandian air panas Ciracas
Pengelolaan yang kurang optimal terhadap sumber air panas Ciracas membawa pada sebuah pemikiran tentang peran pemerintah dalam proses pembanguanan antara pusat kota dan desa di Purwakarta.  Di wilayah kota, berbagai antraksi wisata baru telah dibangun, seperti taman Sri Baduga dengan Air Mancur  Terbesar di Indonesia, Bale Panyawangan sebagai museum sejarah Purwakarta dengan sentuhan teknologi modern dan berbagai taman lainnya yang dibuat dengan sangat menarik.
Sebetulnya pengembangan atraksi baru pariwisata seperti disebutkan di atas tidak salah, apalagi jika tujuanya untuk menata kota agar lebih rapih dan nyaman serta menarik kunjungan wisatawan ke Purwakarta dan menggerakan roda perekonomian. Namun, akan lebih baik apabila pengembangan atraksi pariwisata juga dilakukan terhadap objek-objek wisata yang memang  telah tersedia oleh alam. Sehingga biaya pengembangannya “mungkin” dapat lebih murah dan juga sebagai bentuk syukur dan upaya mempertahankan warisan potensi alam Purwakarta.
Namun demikian, kurang optimalnya pengembangan objek wisata sumber air panas Ciracas Purwakarta sebetulnya tidak sepenuhnya menjadi salah dan tanggungjawab pemerintah. Kita sebagai masyarakat Purwakarta  juga harus berperan aktif, caranya dapat dilakukan dengan langkah sederhana. Misal menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencurat coret dan aktif mempromosikan sumber air panas  Ciracas agar potensinya lebih banyak diketahui oleh masyarakat. 

Kesimpulan: Sumber Air Panas dan Pengangguran

 Sumbangan sukarela untuk membangun sumber air panas Ciracas
Terdapat relasi dari label “pengangguran” pada individu dan sumber air panas Ciracas. Pada dasarnya keduanya memiliki potensi untuk berkembang dan memberikan manfaat. Kita (manusia) dengan label pengangguran mungkin apabila sudah bekerja dapat memberikan manfaat untuk keluarga dan orang-orang tercinta dengan gaji yang diperoleh. Begitupun dengan sumber air panas Ciracas, apabila dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat kepada masyarakat setempat. Namun bedanya, label “pengangguran” pada kita sebagai manusia dapat berubah berdasarkan usaha yang kita lakukan sendiri, karena kita adalah subjek yang dapat bergerak. Artinya,  dengan usaha dan kerja keras untuk mencari pekerjaan suatu hari nanti akan bekerja dan mandiri. Tapi sumber air panas Ciracas adalah subjek yang diam. Kepedulian dari kita selaku bagian dari masyarakat Purwakarta dan sumbangan pengunjung “se-ikhlasnya” yang membuatnya tetap bertahan, entah sampai kapan.
Oleh karena itu, tulisan ini diharapkan dapat sedikit membantu untuk mempromosikan potensi pariwisata di Purwakarta. Agar potensi pariwisata tersebut tidak menjadi “pengangguran”, namun memberikan manfaat bagi masyarakat. Meskipun semua akan indah pada waktunya, sesuai dengan porsinya.

Sabtu, 20 Juni 2015

Seleksi JPI Jawa Barat 2015: Tidak Hanya Sekedar Kompetisi!



oleh Alpiadi Prawiraningrat
Seleksi selalu erat kaitannya dengan kompetisi dan tidak pernah lepas dari sifat arogansi individu untuk menunjukan kualitas diri agar dianggap pantas dinilai sebagai pemenang hingga mengabaikan untuk menjalin relasi dengan lingkungan disekitarnya, namun hal itu tidak sepenuhnya terjadi pada seleksi Jambore Pemuda Indonesia (JPI) tahun 2015 yang telah mengajarkan bahwa: “selection process  it’s not only about the competition but also how to make a  good relation with the potential young generation. Hal penting lainnya adalah bahwa skala atau ruang lingkup kompetisi bukanlah menjadi mutlak orientasi utama, karena terpenting adalah bagaimana kita dapat belajar dan berbagi dalam proses seleksi tersebut.  Tulisan ini tidak hanya akan menjelaskan sedikit gambaran singkat tentang Jambore Pemuda Indonesia, tapi juga pengalaman penulis dalam mengikuti Seleksi Jambore Pemuda Indonesia (JPI) tahun 2015 tingkat provinsi Jawa Barat! Selamat membaca!


Apa itu Jambore Pemuda Indonesia (JPI)?
            Jambore Pemuda Indonesia (JPI) adalah salah satu program dari Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia.  Kata “Jambore” disini tidak selalu berkonotasi Pramuka karena lebih menekankan pada aktifitas  yang  memfasilitasi para pemuda berpotensi dari seluruh provinsi di Indonesia untuk berkumpul, berbagi pengalaman dan berkontribusi sosial secara nyata terhadap masyarakat.  Sehingga tidak perlu khawatir bagi yang tidak paham dengan Pramuka seperti sandi bendera atau Semapore ataupun urusan simpul tali-temali untuk membuat tandu.  JPI setiap tahunnya rutin dilaksanakan berdekatan dengan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober dengan lokasi yang berbeda-beda, sebagai contoh tahun 2014 dilaksanakan di Yogyakarta dan untuk tahun 2015 akan dilaksankan di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Akan tetapi, untuk menjadi delegasi pemuda dari provinsi tertentu tidaklah mudah karena terdapat beberapa tahapan seleksi baik ditingkat kabupaten hingga provinsi.    Untuk tingkat provinsi misalnya, peserta seleksi yang berhak ikut adalah peserta yang direkomendasikan dari kabupaten/kota dengan berbagai berkas lengkap yang harus dipersiapkan, berikut gambaran syarat lengkapnya:



Setiap provinsi memiliki perbedaan dalam proses seleksi. Sebagai gambaran untuk proses seleksi di provinsi Jawa Barat tahun 2015 diantaranya adalah test pengetahuan umum, test fisik, test kesenian, personal interview dan persentasi produk unggulan kabupaten/kota.  



Materi test pengetahuan umum terbagi dalam beberapa kategori, yaitu berkaitan wawasan nasional, seperti macam-macam kesenian, rumah adat, tarian dan rumah adat asal dari Indonesia, peraturan perundang-undangan tentang korupsi, Hak Asasi Manusia (HAM), dll; Sejarah Indonesia seperti candi, prasasti, proklamasi, sumpah pemuda dll; Wawasan regional seperti ASEAN, peta buta negara-negara ASEAN; serta wawasan international seperti declaration of human rights, runtuhnya kerajaan Turki Usmani, globalisasi, perkembangan idelogi-ideologi di dunia seperti kapitalisme, sosialisme dan liberalisme dan sebagainya.  Kemudian untuk test fisik, terbagi menjadi beberapa bagian seperti lari, push up dan sit up. Selanjutnya test kesenian, lebih memberikan kesempatan untuk menunjukan bakat seni peserta baik menari, menyanyi ataupun puisi yang memiliki korelasi dengan seni dan budaya daerah masing-masing. Adapun untuk personal interview merupakan wawancara mendalam terkait kegiatan dan pengalaman organisasi yang pernah diikuti.  Sedangkan untuk persentasi produk lokal adalah kesempatan menjelaskan dan mempromosikan produk unggulan yang berasal dari kabupaten atau kota kita masing-masing.

Sedikit Cerita dari Seleksi JPI 2015 tingkat Provinsi Jawa Barat!
            Rasa bangga sebagai seorang delegasi dari kabupaten asal yaitu Purwakarta selalu mengiringi ketika mengikuti suatu proses kompetisi, karena artinya terdapat suatu tanggungjawab dan kepercayaan dari kampung halaman kepada diri pribadi.  Begitupun pada kesempatan kali ini,  bersama dengan sahabat saya Joewitta Fitriana Syofyan (@JFSyofyan), kami dipercaya untuk menjadi delegasi kabupaten Purwakarta dalam proses seleksi JPI 2015 tingkat provinsi Jawa Barat yang dilaksanakan dari tanggal 9-11 Juni 2015 di hotel Alam Sari Permai, Bandung.  



Terdapat sekitar 41 orang delegasi dari kabupaten dan kota di Jawa Barat yang kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Pada bidang seni misalnya ada Arman dari kabupaten Subang dengan kemampuan menari akrobatik yang luar biasa, pasangan Dede dan Kakak Emesh dari kabupaten Bandung Barang dengan kemampuan tari kolaborasi yang romantis; Widik dari Garut dan Teh Irna dari Ciamis yang mampu pencak silat dengan tangguh. Kemudian Faisal atau lebih sering disebut Pepey dari Cimahi yang suaranya merdu ala-ala kolabirasi Afgan dan Josh Groban dan Shinta kabupaten Bandung yang ngawihnya bikin syahdu; juga Egi yang hebat sekali monolog ataupun sajak yang bikin merinding.  Tidak hanya dibidang seni, Kang Wishnu misalnya ternyata adalah salah satu pria pergerakan Jatinangor yang jago banget bikin aksi massa (baca: demo mahasiswa), maklum dia mahasiswa ilmu pemerintahan UNPAD. Serta para mojang dan jajaka keceh seperti kang Hilman dan Gita dari Kuningna, Septian dari Indramayu dan banyak lagi generasi muda berpotensi Jawa barat lainnya.


Meskipun berjudul seleksi yang erat kaitanya dengan kompetisi, tapi kesempatan menjalin relasi dengan generasi muda berpotensi adalah salah satu hal yang memotivasi saya untuk ikut cara ini.  Meskipun awalnya rada kagokan, namun seiring berjalannya waktu selain selfie disela-sela kompetisi, ada juga games yang bikin sensi, misal black magic-black magican andalan Egi. Selanjutnya duet Deo dan Widik dengan games yang clue-nya “Bumi itu bulat” atau “Ini angsa yah ini angsa” diikuti dengan penjumlahan angka yang bikin diri kita terasa amat bodo karean kompleks pisan untuk dipahami, serta nyaris selusin tebak-tebakan lainnya yang bikin au ah gelap. Tapi memang sih, soal tebak-tebakan duet pepey dan egi memang aduhay kaga ada lawannya, mulai dari tebakan kalau punya uang 50 ribu gue mau bikin atau beli apa?;  Tebakan logic berlevel (serasa kripik Ma’icih); typo-typo porno, eh parno maksudnya. Pokokna Pepey sang Jajaka Cimahi dan Egi sang Pecinta Dedek Emesh Juara-lah soal tebak-tebakan mah! 



Selain selfie dan tebak-tebakan berkualitas proses seleksi JPI 2015 Jawa barat juga dihiasi dengan cerita-cerita bernuansa, mulai dari yang bernuansa lucu dari Bang Iful tentang nangka, manggis, singa dan kancil, roman picisan Papah ingin mengetik namun akhirnya tulis tangan, selingan keripik Kanjo, hingga bernuansa mistis yang menjadi asal muasal terbentuknya kelompok 7 Manusia Harimau di kamar 403 yang diwarnai dengan fenomena hilangnya pepey dari kamar 403 yang diperkirakan pukul 02.00 pagi serta lantunan orkestra syahdu orkestra dari bang Iful dan Rim yang bikin merinding sakit hati. 


Meskipun yang terpilih hanya 12 orang yang terdiri dari 6 putera dan puteri untuk menjadi delegasi Jawa Barat di tingkat nasional, serta sekejapnya waktu perkenalan antara peserta tapi tidak membatasi ikatan persahabatan dan oleh karena itu, untuk lebih merekatkan tali silaturahmi sebagai bagian dari pemuda Jawa Barat, selesai acara kami memutuskan untuk nonton film yang ngehits kekinian yaitu Jurasic World dan nongsky bareng mengobrol ngaler ngidul berbagi cerita setelah nonton pagelaran seni di NHI setiabudi hingga larut malam.
Oleh karena itu, opini pribadi dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa “selection process  it’s not only about competition but also how to make a  good relation with the potential young generation. Terhadap saya pribadi, seleksi Jambore Pemuda Indonesia tahun 2015 tingkat provinsi Jawa Barat telah mengajarkan tentang pentingnya persahabatan dari sekedar adu kekuatan dan kemampuan dalam sebuah kompetisi, serta menghargai masing-masing potensi adalah pelajaran yang juga berarti dari hanya menunjukan kehebatan diri sendiri.

Renungan dari Seleksi  JPI 2015 Provinsi Jawa Barat!
            Selain dari persahabatan, cerita lucu, mistis dan tragis serta pengalaman-pengalaman menyenangkan lainnya dari kegiatan seleksi JPI Jabar 2015. Terdapat salah satu hal menarik lainnya berupa pertanyaan dari salah satu panitia seleksi pada saat personal interview kepada saya yang kurang lebih seperti ini: “Keyakinan apa yang membuat kamu ingin mengikuti JPI yang skalanya nasional sedangkan berdasarkan CV bahwa kamu telah memiliki cukup banyak pengalaman di level regional bahkan internasional?
            Mungkin bagi sebagian orang pertanyaan tersebut sepele dan sederhana, tapi bagi saya pertanyaan tersebut cukup menyulitkan sehingga membuat saya terdiam dan merenung sesaat dalam waktu yang singkat. Hingga akhirnya nasehat dari Ayah-lah yang terlintas untuk menjadi jawaban, yang kurang lebih seperti ini:
            “Saya teringat akan pesan yang selalu disampaikan ayah kepada putra-putranya, bahwa Jalma Nangtung ku Elmuna, Dampal Ngampar ku Amalna yang artinya bahwa seseorang itu dapat berdiri karena ilmunya, dan menginjakkan kaki oleh amalnya.  Ilmu erat kaitanya dengan belajar dan proses belajar dapat diperoleh pada tempat, lingkungan, kondisi, skala atau level apapun baik di tingkat internasional, regional, nasional bahkan lingkungan terkecil seperti keluarga sekalipun selalu ada nilai-nilai pelajaran dan ilmu yang dapat dipetik.  Bagi saya pribadi, skala atau level acara tidak selalu menjadi prioritas utama, karena terpenting adalah Purwadaksina-nya. Purwa berarti memulai dan daksina berarti mengakhiri, yaitu bagaimana saya memulai (purwa) untuk mengikuti kegiatan ini dengan niatan belajar mencari ilmu sehingga dapat berdiri atau membanggakan, tapi tidak lupa untuk mengakhirinya (daksina) dengan berbagi atau berkontribusi dari ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh (dampal ngampar ku amalna), karena setelah hal itu dilakukan kebahagiaan yang diperoleh tidak hanya sekedar  kebanggan dari keikutsertaan dalam sebuah event dengan skala atau level tertentu, tapi lebih dari itu, yang akan kita temukan dan dapatkan setelah semuanya selesai secara paripurna, sebagaimana lirik dalam lagu Muse berjudul Dead Inside bahwa “Light only shines from those who share.”  Tinggal tugas kitalah selanjutnya untuk menemukan dan mendapatkan cahaya (light) seperti apakah yang akan membuat kita bersinar (shining) dan kuncinya adalah share berbagi, berkontribusi.
                Nampaknya sekian dulu tulisan saya terkait JPI 2015 tingkat provinsi Jawa Barat. Mohon maaf rada panjang, maklum curahan dari hati banget. Hehhehehe. Cag! Hatur nuhun! Salam Semangat!

Rabu, 27 Mei 2015

Rita, Teman Baru yang Berbeda



oleh Alpiadi Prawiraningrat
Tulisan yang hendak diangkat kali ini akan menjelaskan tentang pengalaman pribadi saya dalam upaya menjalin sebuah komunikasi dengan “individu” yang sangat sering dijauhi oleh sebagian orang karena dinilai sebagai seseorang yang tidak normal atau tidak waras.  Individu yang dianggap tidak normal tersebut akhirnya menjadi seorang “teman” baru dan sosok yang memberikan pemahaman baru bagi saya dalam menyikapi persoalan kehidupan.  
Makan Bakso dengan Rita (1)

Teman baru yang saya miliki ini berbeda dengan sahabat-sahabat yang telah saya miliki sebelumnya, karena ketika diajak ngobrol atau berkomunikasi diperlukan sedikit ekstra keras untuk memahami setiap kalimatnya atau bahkan harus bersabar karena terkadang teman baru saya ini idak merespon atau memberikan jawaban yang sangat membingungkan ketika ditanya tentang suatu hal atau asik dengan dunianya sendiri. Sikap inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa teman baru saya ini seringkali dijauhi oleh kita sebagai orang-orang yang beranggapan bahwa dirinya normal dan sebagai kelompok mayoritas di masyarakat ini, karena memang teman baru saya ini  adalah individu yang memiliki gaangguan kejiwaan atau masyarakat menyebutnya sebagai “orang gila” dalam bahasa Indonesia atau “nugelo” dalam bahasa Sunda.  Akan tetapi, meskipun teman baru saya ini adalah orang gila secara kontruksi sosial, namun based on the basic dia juga adalah manusia yang bagaimanapun merupakan individu yang sama dengan kita dan rasa ingin tahu yang begitu besar tentang pola pikir dan kegemaran melakukan tindakan yang anti mainstream telah menuntun saya untuk menjalin komunikasi dengan “teman” baru ini. 

Awal Pertemuan dan “Sekilas” tentang Teman Baru
Apabila ditanya siapakah naman teman baru saya itu? Saya akan berpikir cukup lama karena nama dari teman baru saya ini selalu berganti-ganti, kadang bernama Rita, Fani, Neneng, Susi, Nia Santi dan masih banyak nama lainnya, namun saya pribadi dan penduduk di desa tempat saya tinggal lebih sering memanggilnya sebagai Rita.  
Rita saat makan entah apa (1)
Pertama kali bertemuan dengan Rita sekitar bulan Oktober tahun 2014 karena dia sering lalu lalang  di depan rumah saya dan tidak jarang duduk di bale depan rumahm karena kebetulan keadaan rumah saya terbuka dan tidak memiliki pagar.   Awalnya saya risih terhadap keberadaan Rita yang sejujurnya beraroma kurang sedap dan membuat khawatir, serta ragu untuk mengajaknya mengobrol ditakutkan emosinya tidak stabil dan bertindak kasar,  tetapi didorong rasa penasaran dan keingintahuan yang begitu tinggi tentang Rita yang sering dianggap individu tidak normal akhirnya saya beranikan diri untuk mendekati dan mengajaknya berkomunikasi.
Dari keseringan bercakap ngalor ngidul akhirnya saya memperoleh beberapa informasi tentang  latar belakang kehidupan Rita yang mungkin bisa diperdebatkan tentang valididtasnya.  Rita berasal dari tempat beranama Kuningan Jakarta Surabaya, begitulah dia menyebut tempat asalnya.  Seorang teman laki-laki dan perempuanlah yang membawa Rita ke desa saya dan  memaksanya turun dari kendaraan yang entah apa jenisnya, yang pasti orang yang menyuruhnya turun selalu jahat dan kasar kepadanya.
Rita pernah menceritakan jika dirinya memiliki keluarga. Seorang suami dan 2 (dua) orang anak (saya lupa nama anak yang disebtukannya).  Berdasarkan penuturanya,  kedua anaknya tinggal di Tegal bersama suaminya dan Rita tidak diperkenankan untuk bertemu.  Pernah suatu hari saya memergoki Rita sedang memperhatikan anak-anak main dengan sesekali tersenyum dan tertawa dengan wajah bahagia, entah apa yang dipikirkanya mungkin sebuah kerinduan.  Selain itu, dia juga mengungkapkan kalau ketika di kampung asalnya bernama Kuningan Jakarta Surabaya, dia selalu membantu orang tuanya menjadi petani dan mengurusi sawah.
 Rita Saat Makan Bakso
Meskipun masih diragukan tentang penjelasanya mengenai latar belakang dirinya dan keluarganya, apabila mengingat kondisi kejiwaan dan pikirannya yang terganggu. Akan tetapi satu hal yang penting dari penjelasan Rita adalah bahwa dia juga memiliki kenangan tentang perjalanan hidupnya. Tentang keabsahanya, itu bisa dipikrkan nanti tapi kenangan itulah yang menjadi salah satu dasar bahwa Rita adalah manusia yang sama dengan kita.  Tugas kita sebagai sesama manusia tidak perlu memperdebatkan latar belakangnya, tapi lebih upaya menghargai bahwa kita adalah sesama manusia dan makhluk hidup ciptaan yang maha kuasa.

Perlakuan Kasar Warga terhadap Rita
Sebagai individu yang dianggap berbeda karena dinilai orang gila, berbagai perlakuan pernah diterima Rita dari warga desa Cibatu khususnya tindakan kasar yang membuatnya menjadi terkesan individu yang liar.
Sebagai contoh pernah suatu hari sekitar pukul tiga dini hari, saya dan ayah terbangun karena mendengar suara bising dari luar yaitu suara seseorang berteriak-terik dengan intonasi penuh kesal dan marah sambil terdengar sesekali menangis dengan struktur kalimat yang diungkapkanya tidak jelas. Ternyata individu itu adalah Rita.  Awalnya saya sendiri yang memberanikan diri sendiri mendekati dan menegurnya, namun dia tetap berteriak-teriak kasar dan sesekali mengeluarkan kata-kata umpatan. Sampai akhirnya ayah saya keluar dan menegur dengan intonasi tinggi yang membuat Rita akhirnya diam.  Setelah beberapa saat dan nampak tenang akhirnya dia menjelaskan kalau dirinya kesal karena ada yang melemparinya dengan batu bata, bunga kamboja, rambutan, serta kerikil-kerikil kecil lainnya.  
Pernah juga pada suatu sore ketika saya mengantarkan makanan untuk Rita dari Ibu, tetiba dia menunjuk beberapa anak remaja desa saya yang kebetulan lewat di depan kita bahwa mereka selalu kasar dan melemparinya dengan batu-batu dan rambutan. 
Bahkan pernah beberapa hari Rita tidak terlihat dari tempat biasnya dia tinggal, ternyata Rita ke hutan karet yang lokasinya tidak terlalu jauh dari desa saya. Ketika ditanya alasanya ke hutan karet, karena ada orang yang membentak dan mengancamnya dengan benda tajam untuk meninggalkan tempat dimana Rita selalu berdiam. 
Begitupun dengan penuturan yang cukup bernuansa mistis, ketika suatu subuh Ibu saya kaget karena tiba-tiba ada Rita sedang tertidur di teras pinggir rumah. Ketika ditanya alasanya, dia menuturkan kalau semalam banyak sekali orang datang ke tempat dia tinggal tapi mukanya jelek-jelek dan kebanyakan laki-laki tinggi besar yang kulitnya berwarna hitam kotor. Orang-orang tersebut kata Rita sangat berisik tapi Rita tidak mengerti apa yang dibicarakanya yang pasti mereka membuat Rita tidak nyaman karena kepalanya ditendang-tendang dan kaki serta rambut dia ditarik-tarik oleh sekelompok orang-orang tersebut dan menyuruh Rita pindah dulu sementara waktu.

Mengubah Paradigma Warga terhadap Rita
Saya percaya bahwa komunikasi dan sosialisasi yang baik dapat dijadikan sebagai salah satu cara yang efektif untukmengubah prilaku seseorang ataupun masyarakat.  Selain itu, mengawalinya dari diri sendiri sebagai “kelinci percobaan” dalam mempraktekan suatu perubahan merupakan salah satu langkah yang efektif.  Begitupun dengan konteks mengubah paradigma masyarakat tempat tinggal saya terhadap Rita yang saya awali dari diri sendiri, seperti hal paling dasar adalah mengajaknya berkomunikasi atau mengobrol, mengajaknya makan bersama, atau memberikan beberapa benda keperluanya seperti pakaian dan sebagainya yang dengan sengaja saya lakukan ditempat terbuka dan dapat dilihat oleh banyak orang seperti tetangga dan keluarga.  Hal tersebut sebagai bukti bahwa Ritaa adalah juga manusia dan bila diperlakukan baik-baik dia juga akan meresponya dengan baik pula, karena hakikat dasar antara kita dan Rita sama, yaitu manusia.  Hanya sikap dan pola pikir yang membuat kita berbeda, itu saja!

Makan Bakso dengan Rita (2)


Tidak perlu menunggu waktu begitu lama hingga akhirnya masyarakat di dekat tempat tinggal saya dapat menerima Rita. Berawal dari lingkungan terdekat yaitu keluarga seperti Ibu yang pada mulanya takut kepada Rita, karena dikhawatirkan dalam pemikiran Ibu saya bahwa tiba-tiba Rita menjadi liar dan membunuh akhirnya perlahan tapi pasti ibu mulai menerima Rita yang dibuktikan dengan sering memberikan makanan. Begitupun dengan tetangga, Bi sapnah contohnya seorang pemilik warung semabko dekat rumah yang awalnya jijik akhirnya menjadi indvidu yang paling peduli terhadap Rita, mulai dari memberikan makan, sedikit uang hasil daganganya, hingga pakain bekas dan kerudungnya.  Katanya agar Rita lebih tampak lebih manusiawi penampilannya.




Cinta Mengobrol dengan Rita  
 
            Begitupun dengan keponakan saya bernama Cinta yang masih kelas 2 SD yang akhirnya berani mengajak Rita mengobrol dan tidak sungkan memberikan barang-barang bekas milik bundanya untuk dikenakan kepada Rita.
           Selain itu juga ibu solo, yang seoang pedagang makanan warteg (warung tegal) yang awalnya risih dengan keberadaan Rita juga menjadi peduli dengan sering memberikan makanan, bahkan mengajarkan Rita cara menggunakan uang.  Walaupun menurutnya sangat susah sekali mengajari individu menggunakan uang.
           Dari berbagai perubahan sikap orang terdekat tersebut, saya pribadi merasa cukup puas dan berbangga hati.  Meskipun saya dan orang-orang terdekat tidak dapat mengubah sikap, kejiwaan dan pola pikir Rita, tapi setidaknya dapat sedikit mengubah pola pikir masyarakat “normal” terhadap individu seperti Rita, hal tersebut bagi saya pribadi sudah lebih dari cukup.

Belajar dari Rita
Rita bukan sosok individu yang sempurna, dan hal tersebut sama seperti kita juga bukan? Yap, tidak ada manusia yang sempurna. Tapi belajar bukankah dapat diperoleh dari mana saja kan? Termasuk dari seseorang seperti Rita.  Dari Rita saya dapat belajar dan memahami berbagai hal. Pertama adalah sikap apa adanya dan menjadi diri sendiri atau  be your self. Terkadang seseorang ingin terlihat hebat dan luar biasa dengan cara mengikuti perspektif orang lain padahal sebetulnya dia tidak nyaman atau bahkan tidak mampu mengikuti perspektif orang lain tersebut hingga akhirnya memaksakan dan menjadi beban hidup dan pikiran. Tapi coba lihat Rita, dia santai dengan dunianya dan menjadi dirinya sendiri tanpa menghiraukan orang lain.   Hal ini bukan mengajak untuk menjadi seseorang yang individualis, tapi kepada sikap yang lebih menghargai diri sendiri dan yakin pada kemampuan diri sendiri.

Rita memakan entah apa

Kedua, selalu bahagia karena ini hanya kehidupan dunia.  Meskipun Rita tidak melakukan ibadah dan tidak memiliki apa-apa bahkan badan kumal dan baju sangat alakadarnya, tanpa emas hanya gelang-gelang karet hasil memungut di sembarang tempat, tapi dia selalu terlihat bahagia dan mungkin Rita adalah salah satu orang paling bahagia di dunia.  Bahkan saya sempat berpikir liar, apabila koruptor-koruptor dan penjahat negeri lainnya digantikan dengan individu-individu seperti Rita, Indonesia akan jauh lebih aman, siapa tahu bukan?. 
Oleh karena itu, menutup tulisan ini satu hal lain yang hendak saya ungkapkan bahwa meskipun Rita adalah teman saya yang berbeda tapi dari perbedaannyalah banyak hal yang saya pelajarai, khususnya cara pandang terhadap berbagai kehidupan di dunia. Sehingga menjadi berbeda itu tidak menjadi masalah, selama kita tahu bagaimana kita menempatkan hal berbeda tersbut pada situasi dan kondisi yang tepat, karena perbedaan juga merupakan suatu hakikat dalam kehidupan juga bukan? terima kasih Rita! Salam semangat!