Jumat, 20 September 2013

Sebuah Perspektif terhadap Parlemen Australia



Dalam tulisan Australian Political Institutions karya Don Aitkin dan Brian Jinks, dijelaskan bahwa konstitusi Australia menjabarkan kekuasaan pemerintah dalam tiga bagian, yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif yang juga menegaskan bahwa anggota legislatif harus juga anggota eksekutif. Pada kenyataannya, parlemen mendelegasikan wewenang penyusunan undang-undang yang luas kepada eksekutif. Parlemen sebagai pemegang kekuasaan legislatif terdiri dari Ratu (diwakili oleh Gubernur Jenderal); Senat yang terdiri dari 76 senator, di mana masing-masing terpilih untuk mewakili salah satu dari enam negara Australia dan dua wilayah teritori; dan House of Representative yang juga dikenal sebagai majelis rendah yang terdiri dari 150 anggota dimana setiap anggota mewakili satu dari 150 pemilih federal Australia. Parlemen memiliki empat peran utama[1]: membuat dan mengubah undang-undang federal; mewakili rakyat Australia; menyediakan tempat di mana pemerintah terbentuk; mengawasi kinerja pemerintah. Pemerintah Australia dibentuk di House of Representative oleh partai koalisai yang mampu meraih dukungan mayoritas di majelis tersebut, sedangkan partai minoritas seringkali menjadi penyeimbang kekuasaan di Senat, yang berfungsi sebagai majelis kaji ulang keputusan-keputusan pemerintah
Dipilihnya sistem parlemen bikameral di Australia, yang terdiri dari senat dan House of Representative menjadikan dua kamar tersebut dapat berbagi kekuasaan dalam membuat undang-undang. Ide ini didasarkan sebagian pada Parlemen Inggris dan sebagian sistem pemerintahan Amerika. Pada tingkat federasi, hal ini dinilai penting bahwa negara-negara yang lebih kecil tidak akan kewalahan oleh negara-negara yang lebih besar. Senator dan anggota DPR menghabiskan sebagian besar waktu mereka memperdebatkan isu-isu kepentingan nasional maupun negara bagian, membuat undang-undang atas nama semua warga Australia, serta isu-isu lainnya.
Hal yang menarik dari tulisan Don Aitkin dan Brian Jinks berkaitan dengan Problems of legislating di Parlemen, diungkapkan bahwa:
The business of making laws is complicated by tensions between parliament and the excecutive and by party rivalries.  These are particulary apparent at the second reading and commite stages and in the total time allowed for the passage of a bill[2]
            Hal tersebut dikarenakan partai-partai politik yang menjalankan disiplin yang tinggi telah mendominasi proses legislatif, dan partai-partai politik tesebut telah membiarkan pelaksanaan tugas-tugas parlemen dijalankan oleh badan eksekutif.  Pemerintah Australia sangat mengandalkan pada posisi sebagai kekuatan mayoritas dalam parlemen untuk menghindar dari pertanggungjawaban.  Selain itu dari adanya dominasi partai politik, kemampuan parlemen untuk mengawasi kabinet dibatasi oleh semakin luas dan rumitnya tugas-tugas pemerintah. Kompleksnya pembuatan produk hukum juga dikarenakan anggota parlemen tidak mampu mengawasi kabinet kecuali mengadakan pengawasan dalam beberapa bidang kegiatan pemerintah dan dominannya peran perdana menteri dan kabinet di dalam sistem politik.  Kabinet sangat menentukan strategi umum pemerintah dan program legislatif yang disampaikan kepada parlemen.  Dominannya peran kabinet karena kabinet merupakan forum tertinggi bagi pertukaran informasi dalam suatu pemerintahan, badan yang menyelenggarakan persengketaan dan pengambilan keputusan tingkat akhir.[3]
Hal menarik lainnya dari parlemen Australia adalah transaparansi yang begitu luas. Apa pun yang diucapkan di parlemen dapat disebarluaskan dengan berimbang dan akurat tanpa kekhawatiran akan tuntutan pencemaran nama baik. Keriuhan waktu tanya jawab dan debat parlemen disiarkan dan diberitakan secara luas. Ini membantu membangun reputasi debat publik yang tangguh di Australia, dan berfungsi sebagai kendali informal atas kekuasaan legislatif dan eksekutif.
Tulisan karya Don Aitkin dan Brian Jinks ini secara keseluruhan sudah mendeskripsikan unsur-unsur penting dari parlemen Australia.  Nilai lebih dari tulisan ini menjadi stimulan yang menarik bagi pembaca untuk memahami lebih mendalam mengenai politik di Australia khususnya parlemen Australia. Sedangkan di sisi lain, akan jauh lebih baik jika tulisan tersebut juga memuat analisis terhadap contoh kasus yang dipaparkan, dan memuat informasi rinci yang dapat dipergunakan bagi praktisi. Informasi-informasi tersebut berupa komparasi kelebihan dan kelemahan masing-masing tugas dari kamar yang terdapat di parlemen Australia.  Informasi tersebut tentunya sangat berguna bagi pembaca untuk lebih memahami lebih mendalam mengenai kompleksitas peran parlemen dalam politik Australia.


Daftar Pustaka

Referensi  Utama
Aitkin, Don and Brian Jinks. Australian Political Institutions. Victoria: Pitman Australia, 1980. Chapter 3, p. 47-74.

Referensi Tambahan
Chauvel, Richard. Budaya dan Politik Australia. Jakarta: Yayasan Obor, 1992.
http://www.peo.gov.au/quick-answers/index.html. Diakses pada Rabu, 18 September 2013; Pukul 06.24 WIB.
http://www.aph.gov.au/. Diakses pada Rabu, 18 September 2013; Pukul 06.26 WIB.
http://www.abc.net.au/ra/federasi/tema1/aus_pol_chart.pdf. Diakses pada Rabu, 18 September 2013; Pukul 06.27 WIB.


[1] http://www.peo.gov.au/quick-answers/index.html. Diakses pada Rabu, 18 September 2013; Pukul 06.24 WIB.
[2] Don Aitkin and Brian Jinks. Australian Political Institutions. Victoria: Pitman Australia, 1980. Chapter 3, p. 58.
[3] Richard Chauvel. Budaya dan Politik Australia (Jakarta: Yayasan Obor, 1992), hlm. 9.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar