Jumat, 22 Mei 2015

"Abah Udju Sang Pustakawan Keliling"



Tulisan ini merupakan sebuah kutipan langsung dari artikel berjudul "Abah Udju, Pustakawan Keliling dari Desa Gunung Hejo" [1] yang mengisahkan perjuangan seorang lelaki tua berusia 63 tahun bernama Djudju Djunaedi atau lebih dikenal sebagai Abah Udju yang merupakan pustakawan keliling dengan kisah hidup perjuanganya yang sangat mengispirasi dalam upaya mencerdaskan kehidupan generasi muda Indonesia, khususnya anak-anak di kecamatan Darangdan, kabupaten Purwakarta. Berbagai dokumentasi baik gambar maupun video yang terdapat dalam tulisan ini diperoleh dari berbagai sumber baik media massa, youtube dan beberapa blog yang terinspirasi dari perjuangan luar biasa seorang Abah Udju sang Pustakawan Keliling kebanggan masyarakat Purwakarta. Selamat membaca!

 

           
Pustakawan Keliling Bernama Abah Udju
Dengan tas gendong usang di punggungnya, seorang lelaki tua berjalan menyusuri Desa Gunung Hejo, Darangdan, Purwakarta. Di sebuah rumah dia berhenti. Di saat yang sama, beberapa anak yang sejak tadi bermain menyambut pria tersebut. Seperti ada yang mereka tunggu. Tas usang tadi kemudian diturunkan ke lantai. Apa isi tas usang itu? Buku dan majalah! Setelah buku di tata, anak-anak itu memilih dengan antusias. Begitu buku didapat, anak-anak itu membaca penuh semangat. Beberapa ibu juga terlihat ikut mengerubutinya.

Lelaki yang membawa tas usang berisi puluhan buku itu adalah Djudju Djunaedi (63). Tanpa digaji, tanpa pamrih, tanpa lelah dan tanpa bernaung dalam lembaga tertentu, Djudju Djunaedi telah mencerdaskan bangsa! Setiap hari, pria bersahaja yang akrab disapa Abah Udju itu berjalan dari satu desa ke desa lain untuk mencari pembaca buku-buku koleksinya. Rata-rata dia menjelajahi 6 desa yang kalau dihitung bisa mencapai 15 hingga 20 km. Jarak itu ditempuh dengan jalan kaki. Untuk menarik perhatian masyarakat, Abah selalu membawa seruling bambu. Seruling itu akan dimainkan ketika ada warga membaca. ”Sekalian mengenalkan budaya Sunda,” ujar Abah. Sudah lebih dari 20 tahun Abah Udju jadi pustakawan keliling.

Perpustakaan Mini “Saba Desa
Selain menjadi perpustakaan keliling, Abah pun membuka perpustakaan mini di rumahnya yang diberi nama Saba Desa. ”Saba artinya berkunjung dalam bahasa Sunda,” terang Abah dengan logat Sunda yang kental. Abah mulai rajin mengumpulkan buku dan majalah sejak sejak tahun 1984. Awalnya buku dan majalah itu milik sendiri dan juga buku bekas pelajaran anak-anaknya. Perlahan tapi pasti, buku koleksi Saba Desa main bertambah seiring dengan kegigihan Abah Udju berkeliling desa.

Buku koleksi Abah Udju sudah cukup banyak dengan berbagai judul. ”Alhamdulillah koleksi buku dan majalah di perpustakaan ini bertambah. Sebagian ada donatur yang membawakan buku-buku ke sini,” ujar warga Desa Gunung Hejo RT 10/03, Darangdan, Purwakarta ini. Buku-buku koleksi Abah Udju tertata di ruang tamu berukuran 2,5 x 2,5 meter. Abah Udju menyebut ruangan itu sebagai perpustakaan mini. ”Inilah perpustakaan mini milik Abah yang bisa dipergunakan oleh masyarakat umum,” tutur Abah.

Suka Membaca
Abah mulai merintis mendirikan perpustakaan sejak tahun 1984. Kebetulan dia suka membaca. Demikian juga dengan dua putranya, Edi Rahman (33) dan Dede Firman (23). Abah yang saat itu bekerja di perkebunan coklat tak bisa mengelak dari permintaan putranya. Apalagi setiap hari putranya meminta dibuatkan gambar. Merasa waktu kerjanya terganggu, Abah kemudian membeli sebuah majalah anak-anak untuk putranya itu. ”Daripada harus menggambar terus, Abah belikan majalah anak. Edi sangat senang sekali,” tambah Abah Udju. Setiap bulan, Abah yang menerima gaji dari perkebunan harus menyisihkan untuk membeli buku. Lama-lama, majalah yang Abah beli terkumpul banyak.

 Selain itu, majalah yang dibeli Abah sudah tak dipakai lagi, majalah itu dinilai sudah tak menarik lagi. ”Karena banyaknya majalah, Abah bingung juga mau diapakan,” terangnya. Tadinya Abah mau membuangnya saja. Namun setelah dipikir lagi, isi majalah tersebut banyak sekali manfaatnya. Abah pun berniat menyewakan majalah-majalah tersebut. Niatan tersebut ternyata disambut baik oleh istrinya, Heni Saenih (49). Selain menambah penghasilan, juga dapat memberi wawasan bagi masyarakat yang membacanya. Namun, niatan Abah tak langsung membuahkan hasil. Malah masyarakat di sekitarnya acuh tak acuh dengan kehadiran Abah yang membawa majalah bekas.
Dimulai tahun 1986 sampai 1988, Abah berusaha mencari pembaca di lingkungan RT dan RW setempat. Tahun berikutnya, Abah ingin merambah ke desa lainnya. Lagi-lagi Abah berjalan kaki sambil membawa tas punggung dan beberapa majalah di pelukannya. Sama seperti di desa Abah, peminatnya ternyata kurang. Sampai suatu ketika, seorang anak SMA sengaja mencari Abah untuk mencari kliping bencana alam. ”Abah sangat senang sekali. Anak itu ternyata membuka mata Abah betapa pentingnya informasi,” akunya. Setelah mendapat bahan untuk klipingnya, si anak pun memberikan uang kepada Abah sebagai imbalannya.


Namun, Abah menolak dan memintanya untuk membawa teman-teman mereka untuk membaca majalah yang dibawa Abah. Ternyata permintaan Abah dipenuhi anak itu dengan membawa teman-teman mainnya untuk membaca majalah yang bawanya. ”Abah senang sekali saat itu, sampai ibu-ibu juga ikut membaca,” ujar Abah. Melihat sinyal positif tersebut, Abah kian bersemangat berkeliling desa, meski harus membagi waktu bekerja. Perlahan apa yang dilakukan Abah Udju disambut suka cita warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak sekolah. Ibu-ibu biasanya meminjam resep buku atau majalah resep masakan, sedang anak-anak suka buku atau majalah yang ada ceritanya.


Meski ada catatan siapa yang meminjam, majalah-majalah koleksi Abah kadang tak kembali dengan sempurna. Malah ada yang jilidnya terlepas dan halaman dalamnya tak lengkap. ”Kebanyakan mereka mengambil resep. Tapi tak apa. Yang penting bermanfaat,” akunya. Ternyata resep yang dirobek dari majalah Abah pun dipraktikkan. Bahkan, Abah mendapat sepotong kue dari seseorang yang mengaku telah merobek majalahnya. ”Akhirnya ia mengaku juga kalau merobek majalah Abah. Malah Abah senang bila majalah itu bermanfaat juga,” tutur Abah Udju.

Dirampok Preman Kampung
Selama berkeliling, banyak kejadian unik yang dialami Bah Udju. Termasuk saat ia dirampok sekelompok preman kampung. Ceritanya, suatu sore  di tahun 1996. Saat itu hujan turun, dan dia berteduh di sebuah warung yang di dalamnya ada banyak pemuda. Beberapa jam kemudian, begitu hujan reda, ia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Namun baru saja berjalan sekitar 100 meter dua pemuda besepeda motor memepet Udju. 
Pak, minta rokok?!” hardik salah seorang dari pemuda tersebut. 
Bah Udju berusaha tenang. Sambil berkata lembut, ia menyatakan bahwa dirinya tidak merokok. “Kalau begitu, saya minta uang!” kata pemuda yang satunya lagi dalam nada kasar. Tidak ingin berpanjang mulut, Bah Udju lalu memberikan uang Rp.5.000 kepada mereka. 
Masa cuma segini?!” Ditanya demikian, Bah Udju coba menjelaskan bahwa ia hanya punya uang Rp.6.500. Alih-alih merasa iba, para pemuda itu justru dengan kasar merebut buntalan kain yang dibawa Udju sambil langsung melarikan sepeda motornya. 
Diperlakukan seperti itu, Bah Udju tidak coba melawan. Ia pasrah. Di tengah sisa asap knalpot sepeda motor yang meludahi udara sekitarnya, ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga Tuhan melindunginya. “Saya putuskan untuk pulang saja  ke rumah saat itu,” kenangnya. 
Setelah sekitar 30 meter berjalan dari tempat kejadian, betapa terkejutnya Bah Udju saat melihat buntelan yang tadi dirampas para pemuda tersebut ada di pinggir jalan dalam kondisi isinya sudah berserakan. “Rupanya mereka membuangnya karena isi buntalan itu bukan barang berharga di mata mereka, tapi hanya buku dan majalah bekas,” ujar Bah Udju seraya tersenyum. 
Kendati sebagian buku tersebut basah karena air hujan yang menggenang di jalanan, Udju tetap tak tega untuk mengacuhkannya. Dengan hati-hati, ia pun memunguti satu persatu buku-buku yang berserakan itu dan kembali membawanya pulang. “Buku-buku itu ibarat hidup saya, jadi harus saya rawat sebaik mungkin,” katanya. 


Atas pengorbanannya, tahun 2009 Perpustakaan Nasional memberi Abah penghargaan sebagai Wahana Belajar Sepanjang Hayat dan juga berbagai penghargaan lainnya. ”Alhamdulillah pemerintah memberikan apresiasi terhadap aktivitas Abah. Semoga bermanfaat bagi semuanya,” akunya. Selain mengentaskan kebodohan di lingkungan sekitarnya, Abah juga berhasil mengantar anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi. Edi sudah menyelesaikan kuliahnya di Unpad, Bandung dan meraih gelar sarjana hukum. Sedangkan Dede tengah menyelesaikan kuliah di sebuah perguruan tinggi di Bandung.




[1] Tabloid Nyata. Abah Udju, Pustakawan Keliling dari Desa Gunung Hejo dalam http://nyata.co.id/kisah/abah-udju-pustakawan-keliling-dari-desa-gunung-hejo/ diakses pada Jumat, 22 Mei 2015; Pukul 15.29 WIB.

Sumber gambar dan video:
- http://nyata.co.id/wp-content/uploads/2013/02/Profil-Abah-Udju_ft.doni_.-13.jpg
-http://nyata.co.id/wp-content/uploads/2013/02/Profil-Abah-Udju_ft.doni_.warga-tengah-membaca-buku-dan-majalah-abah.-12.jpg
-https://dikabeast.files.wordpress.com/2014/01/img_8613.jpg
-https://dikabeast.files.wordpress.com/2014/01/img_8615.jpg
-https://41.media.tumblr.com/edf403aef2df64df9bf1cfe9b852ba8c/tumblr_nk0d0btNqi1rj6eweo3_500.jpg
-https://36.media.tumblr.com/cf28bec9c89b1f490da0c5cfa56929dd/tumblr_nk0d0btNqi1rj6eweo4_500.jpg
-https://www.youtube.com/watch?v=6uPrY3Sqm8w

1 komentar:

  1. Saya baru tahu kalo ada sosok semulia ini di Purwakarta, saya izin share ya kak

    BalasHapus