Senin, 23 Februari 2015

#Savelocaltourism Kampung Tajur: Diantara Syukur dan Pentingnya Pengawasan Kebijakan yang Berkelanjutan

oleh Alpiadi Prawiraningrat


Tulisan ini akan menceritakan tentang perjalanan melakukan (wisata lokal) local travelling di desa wisata Pasanggrahan, Bojong, Purwakarta bernama Lambur Kahuripan  kampung Tajur bersama para mahasiswa tingak akhir yang sedang galau skripsi Devian (Komunikasi, UNPAD 2011) dan Ridho (Teknik Mesin, UI 2011).  Pengalaman yang diperoleh tidak hanya sekedar kesenangan dalam menikmati keindahan alam, tapi juga refleksi terhadap diri sendiri khususnya rasa syukur terhadap Ilahi akan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia serta bagaimana ternyata upaya pengembangan suatu daerah menjadi desa wisata perlu disertai dengan pengawasan yang berkelanjutan, baik dari pemerintah, swasta maupun masyarakat setempat. Selamat membaca!


Sekilas tentang Kampung Tajur
Kampung Tajur sudah menjadi tujuan wisata sejak tahun 1982 dengan wisatawan yang datang awalnya adalah warga Jakarta. Selanjutnya, setelah melihat potensi yang dimiliki kampung ini, Pemda Purwakarta lalu meresmikan kampung Tajur sebagai kampung wisata bimbingan penyuluhan pada 2006. Dikutip dari website resmi Pemda Purwakarta bahwa kampung Tajur merupakan sebuah daerah yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta sebagai tempat wisata berbasis wawasan lingkungan dan budaya setempat dengan melibatkan peran serta masyarakat yang tinggal di area tersebut (Ecotourism based on community development).
 Bale Warga Kampung Tajur

 Tutunggulan Tempat Menumbuk Padi

 Leuit yang Seharusnya Tempat Menyimpan Padi tapi Malah Berisi Sampah

Tradisi dan budaya Sunda masih kental melekat pada masyarakat kampung Tajur. Di antaranya tradisi Ngencleng yaitu suatu kebiasaan yang mana setiap warga meletakkan sebuah bambu yang berisi beras di depan pintu rumah mereka masing-masing untuk mengantisipasi bencana kelaparan apabila kampung mereka tertimpa musibah seperti gagal panen ataupun hasil panen kurang baik. Kemudian kegiatan Tetunggulan atau kegiatan menumbuk padi ini tidak setiap hari dilakukan, hanya pada acara-acara khusus saja seperti penyambutan tamu, hajatan/syukuran, peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus).


BABAK 1: Perjalanan Menuju Kampung Tajur
Gapura Selamat Datang di Kampung Tajur

Untuk ke kampung Tajur dari Purwakarta mengarah ke Wanayasa. Setelah melewati Situ Wanayasa, terdapat persimpangan jalan. Jalan mengarah ke kiri tujuan Lembang, Subang dan Sumedang. Nah, kita ambil jalan lurus mengarah ke Desa Pasanggrahan. Ikuti jalan tersebut sampai bertemu dengan gapura dan papan petunjuk Madrasah Aliyah. Kemudian masuk ke jalan tersebut sampai di Desa Pasanggrahan, parkir kendaraan dapat dilakukan di halaman Kantor Desa. Setelah itu, perjalanan menuju Kampung Tajur dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau mengendarai kendaraan bermotor kurang lebih 3 Km untuk mencapai Kampung Tajur.
Sepanjang perjalanan dari Purwakarta menuju Desa Pasanggrahan, kita akan disuguhi oleh keindahan alam mulai dari situ Wanayasa, area pesawahan, perkebunan sayur hingga hutan rindang di sepanjang jalan. Begitupun dengan akses jalan menuju Desa Pasanggrahan, dinilai cukup nyaman karena sudah mulus oleh aspal sebagai implementasi nyata dari program Bupati Purwakarta Kang Dedi Mulyadi yaitu Jalan Leucir.


BABAK II: Bersyukur dari Keindahan Alam Kampung Tajur
 Suasana Kampung Tajur (1)
 Suasana Kampung Tajur (2)

Perkebunan Sayur Kampung Tajur 

Setibanya di kampung Tajur, nuansa khas Sunda begitu terasa.  Mulai dari asri dan indahnya panorama alam yang disuguhkan, hingga rumah-rumah penduduk yang khas Sunda yaitu rumah panggung. Selain itu, lokasi kampung Tajur yang jauh dari pusat kota menjadikan suasana begitu tentram dan damai. Untuk beberapa detik terpancar dari raut wajah Adev dan Ridho hilangnya kekhawatiran akan seramnya wajah pembimbing, rumitnya skripsi yang halamanya tidak pernah move on karena pesona budaya kampung Tajur. Namun demikian, kebingungan tiba-tiba muncul tatkala kita sendiri ragu hendak dibawa kemana petualangan jiwa dan ragga ini, karena destinasi pariwisata yang menjadi referensi daya tarik ke kampung Tajur hanya sebatas curug Panembahan, ditambah makam Eyang Pandita, Eyang Bongkok dan kasepuhan lainnya yang memang terletak di kampung tersebut. 
Setelah sejenak bingung dan melaksanakan sholat dzuhur memohon pencerahan pada yang maha kuasa dan berdiskusi singkat, akhirnya diputuskan untuk melakukan petualangan dengan tujuan yang dipasarahkan pada alam, artinya biarlah nanti alam yang menunjukan arah tujuan perjalanan kita. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Agustinus Wibowo dalam bukunya yang berjudul Titik Nol bahwa “Jangan ragu, lakukakanlah perjalananmu.  Karena saat kau tidak tahu arah mana yang harus ditempuh. Alam akan menuntunmu.”
Sesudah kawasan pemukiman penduduk kampung Tajur, destinasi pariwisata selanjutnya yang ditemui adalah curug Panembahan, yang berlokasi sangat dekat dengan rumah warga di kampung Tajur. Meskipun ketinggian air tidak begitu tinggi, akan tetapi segarnya air dari pegunungan Burangrang menjadi daya tarik tersendiri. Berdekatan dengan Curug Panembahan, terdapat makam sesepuh Eyang Pandita yang dipercaya sebagai sesepuh desa Pasanggrahan.  Keunikan dari makam ini adalah lokasinya yang berada di atas bukit, sehingga dapat terlihat pemandangan gunung Burangrang, area pesawahan, perkebunan sayur warga dan kawasan hutan. 
 Gerbang Menuju Makam Sesepuh Kampung Tajur

 Saung Niis

Makam Eyang Pandita

Setelah selesai berziarah ke makam Eyang Pandita dan berfoto-foto dekat curug Panembahan. Kita-pun kembali melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan setapak penduduk menuju gunung Burangrang, tanpa tahu apa yang akan kita temukan di ujung perjalanan nanti.  Terpikir untuk balik kanan dan kembali ke perkampungan, tapi Ridho menyarankan untuk terus berjalan dengan harapan dapat menemukan hal istimewa di antara setiap tikungan area pesawahan. Ternyata benar saja, setelah kurang lebih 15 menit yang diawali dengan adanya aliran selokan kecil dengan air yang jernih, kemudian pemandangan gunung Burangrang ampai akhirnya kita menemukan bagian dari surga dibalik lekukan gunung Burangrang yaitu sungai Ciherang yang begitu jernih. 
 Air Terjun Panembahan

 Menikmati Kesegaran Aliran Sungai Ciherang

 Aliran Sungai Ciherang



Selama kurang lebih 2 (dua) jam kita berenang dan berfoto-foto, menikmati kesegaran air pegunungan yang tidak kita temukan di pekotaan.  Setelah puas akhirnya saya menuju ke salah satu jembatan tradisional yang terbuat dari bambu dengan tanpa terus berhenti mengagumi keindahan alam yang masih bagian dari Purwakarta dan belum banyak orang ketahui. Sambil duduk di atas jembatan barengan Adev dan Ridho, tetiba Adev sahabat terbaik dalam perngalayaban bertanya: “Gimana yah kalau misalya orang Afrika atau orang di belahan bumi sana yang kekurangan sumber air di bawa kesini? Bahagia banget kali yah, kaya nemu surga?”.
Saya sendiri termenung akan pertanyaan Adev.  Bukan karena kagum akan kepala Adev yang kini menjadi botak sebagai cara buang sial agar skripsian lancar. Tapi pertanyaan Adev membawa saya pada perenungan yang begitu dalam, jauh dari khayalan membawa orang Afrika berkunjung ke Bojong, Purwakarta. Perenungan tersebut terkait dengan sebuah kata sederhana, namun apabila dipahami secara dalam bermakna luar biasa. Kata itu adalah “bersyukur”. Ya, kadang kita sering lupa akan hal tersebut, karena terlalu sibuk melakukan perbandingan dalam berbagai hal.  Baik dalam konteks pribadi, seperti keadaan kehidupan kita dengan teman ataupun melakukan perbandingan pada konteks yang lebih luas berkaitan dengan kondisi negara kita dengan negara lain. Baik dari segi sosial, ekonomi, budaya, politik hingga potensi pariwisata yang dimiliki oleh negara lain yang tanpa disadari bahwa bumi pertiwi ini sangat kaya akan potensi pariwisata.
Meskipun sebagian wilayah Purwakarta sedang dilanda tranformasi menjadi kawasan industri, hingga sawah rata dengan pabrik hingga tidak dapat lagi memproduksi padi.  Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa daerah Purwakarta ini sebetulnya masih begitu asri dan memiliki daya tarik tersendiri, dengan tanahnya yang masih subur, dengan air-nya yang masih dapat menyegarkan, dengan hutan yang oksigennya membuat udara masih dapat menyejukan, dengan matahari yang masih dapat memberikan hangat tanpa menyakiti.   

 Pemandangan Gunung Burangrang

 Sungai Ciherang

Terlepas dari melimpahnya sumber air yang merupakan kekayaan alam sebagai pokok pertanyaan Adev yang telah membawa saya pribadi kepada perenungan tentang bersyukur.  Terdapat dua poin yang saya garis bawahi dari renungan tentang bersyukur yang saya peroleh dalam petualangan di Kampung Tajur. Pertama, bahwa beryukur perlu ditanamkan terhadap semua lapisan umur, baik anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa sekalipun.  Karena hal ini dapat menjadi salah satu cara menumbuhkan kebanggan akan potensi pariwisata yang dimiliki negeri kita, baik keindahan alam pegunungannya, kesejukan hutan yang dimiliki hingga melimpahnya air yang mungkin bagi sebagian masyarakat di belahan bumi sana tidak dimiliki. 
Kedua, bersyukur juga tidak hanya dipahami sebatas konteks menghaturkan terima kasih atas apa yang telah diberikan atau yang diperoleh. Akan tetapi, lebih dari itu bersyukur menuntun kita terhadap aksi nyata untuk menjaga dan merawat pemberian sang pencipta.  Begitupun dengan menjaga keindahan alam seperti halnya Kampung Tajur, artinya tidak hanya sebatas pada aktivitas sebagai wisatwan yang menikmati keindahan alam ataupun kegiatan promosi potensi pariwisata yang Purwakarta miliki dengan mem-posting di media sosial yang akhirnya hanya berujung eksploitasi. Tapi juga berkontribusi nyata agar alamnya tetap terawat dan lestari, menjaga hutanya agar tidak ditebang sesuka hati, tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuat coretan-coretan liar adalah contoh sederhana lainnya dari aksi nyata bersyukur terhadap potensi pariwisata negeri ini. 


BABAK III: #SaveLocalTourism Pentingnya Pengawasan Kebijakan yang Berkelanjutan
            Bagai dua sisi mata pedang yang selalu memiliki sisi baik dan buruk.  Pengembangan wisata kampung Tajur pun demikian, disamping keindahan alam dan suasana asri yang dimiliki sebagai desa wisata di kabupaten Purwakarta.  Di sisi lain, pengembangan kampung Tajur sebagai desa wisata juga memiliki beberapa persoalan yang menjadi perhatian saya pribadi, khususnya berkaitan dengan kesadaran masyarakat baik penduduk setempat maupun wisatawan atau pengunjung. Sebagai contoh adalah sampah di beberapa titik, perlunya pengawasan dari pembangunan fasilitas yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten Purwakarta, sampai promosi yang berkelanjutan dari objek pariwisata kampung Tajur sendiri.
            Sampah nampaknya menjadi persoalan yang selalu terjadi pada destinasi wisata lokal di Indonesia. Begitupun dengan kampung Tajur, meskipun memiliki alam yang asri namun pada beberapa titik terdapat gundukan sampah yang mengganggu keindahan alam yang disajikan kampung Tajur.
Sampah di Sekitar Kampung Tajur

Kemudian berkaitan dengan perawatan fasilitas yang telah dibangun oleh Pemda Purwakarta. Nampaknya pengawasan dari institusi terkait seperti dinas pariwisata ataupun pemerintah desa setempat perlu lebih dioptimalkan. Mengingat terdafat fasilitas yang telah dibangun justru kurang terawat dan terkesan diabaikan proses perbaikannya.  Seperti halnya leuit, sebagai tempat menyimpan padi. Tidak digunakan sebagai semestinya dan terlihat sangat kotor dan berisi sampah, bukan padi sebagaimana seharusnya.  Begitupun dengan fasilitas toilet umum yang disediakan di belakang Aula Bale Warga begitu tampak sangat kumuh tidak terawat bahkan kering tidak ada air. 
Sampah di dalam Leuit yang seharusnya berisi padi 

Toilet Umum yang Dibangun Pemda Purwakarta Sangat Kering dan Kotor Tidak Terawat

 
Jalanan yang Mulai Rusak

Persoalan selanjutnya adalah masih belum maksimalnya promosi terhadap potensi kampung Tajur yang terlihat dari media yang dilakukan dalam melakukan promosi, seperti halnya website yang direkomendasikan oleh Pemda Purwakarta sebagai pusat informasi lengkap tentang kampung Tajur yang ternyata tidak dapat diakses. Juga media sosial lain seperti Facebook yang sudah lama tidak digunakan. Bahkan promosi melalui Facebook terakhir dilakukan tahun 2010.  Selain itu, promosi terhadap masyarakat Purwakarta juga perlu dilakukan, mengingat menurut penuturan salah satu warga setempat bahwa pengunjung dari Purwakarta ke kampung Tajur masih sangat sedikit, bahkan pengunjung yang datang mayoritas berasal dari luar Purwakrta, khsuusnya Jakarta, Tanggerang, Bekasi dan beberapa daerah lainnya.


 
                                        
                                                   Media Promosi yang Belum Digunakan Optimal

Oleh karena itu, pembangunan suatu kawasan menjadi desa wisata sebagai implementasi kebijakan publik tidak hanya sebatas pada proses melakukan pembangunan fisik ataupun infrastruktur saja, akan tetapi sosialisasi terhadap warga setempat dan pengawasan yang berkelanjutan perlu dilakukan. Agar proses pengembangan desa wisata dilakukan secara optimal.

Penutup
Perjalanan wisata lokal di kampung Tajur telah memberikan pelajaran berharga, mulai dari bersyukur atas rahmat Tuhan terhadap keindahan alam negeri ini sebagai potensi Pariwisata kabupaten Purwakarta yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia, hingga pemahaman yang jauh lebih mendalam bahwa implementasi kebijakan terhadap desa wisata, khususnya dalam konteks pengawasan perlu lebih dioptimalkan baik peran pemerintah, masyarakat dan wisatawan yang perlu dilakukan secara terus menerus atau sustinable agar pengembangan desa wisata dapat dilakukan secara optimal. Sehingga pengelolaan dan merawat kampung Tajur adalah TUGAS KITA BERSAMA!.  

Sebagai penutup, bahwa generasi muda dapat menjadi bagian penting dalam proses #SaveLocalTourism kampung Tajur artinya adalah tanggungjawab kita untuk tidak hanya menjadi penikmat pariwisata dengan hanya berfoto-foto ria, tapi juga untuk turut serta mempromosikan potensi pariwisata lokal, kritisi dengan menemukan fakta negatif dari lokasi wisata lokal, dan berkontribusi dengan mengajak  orang terdekat untuk menjaga kelestarian alam lokasi wisata lokal yang kita kunjungi. Mengutip salah satu pernyataan bahw terkadang manusia merasa dirinya besar, tapi bagaimanapun disadari atau tidak alam jauh lebih besar. Namun alam dan manusia tidak dapat berdiri sendiri, mereka akan selalu saling membutuhkan dan  tanggungjawab kita sebagai generasi muda yang merupakan bagian dari manusia untuk menjaga alam Purwakarta,  alam Indonesia, rumah bagi kita dan orang-orang yang kita cinta. #SaveLocalTourism
           

Jumat, 06 Februari 2015

Sedikit Cerita dalam Menghadapi Perkuliahan




Beberapa waktu lalu, seorang mahasiwi dari Adkesma Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik, Universitas Indonesia (HMIP UI) memberikan transkrip pertanyaan terkait dengan pengalaman perkuliahan.  Karena dirasa jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menambah perspektif individu lain dan tidak hanya mahasiswa ilmu politik UI saja dalam menjalani perkuliahan, khususnya menjelang penulisan Tugas Akhir (TA), baik skripsi, TKA.  Jadi tidak ada salahnya berbagi kepada yang lain dengan harapan dapat memberikan sedikit manfaat poisitif. Aminn.  Selamat membaca!

1.)      Cita-citanya jadi apa Kak?
Jawab: Inginnya jadi diplomat, tapi juga pengen jadi bupati Puwakarta. Selain itu, menarik juga kayanya jadi pengusaha muda Purwakarta di bidang kuliner.

2.)      Kemaren itu skripsi apa TKA Kak? Judulnya?
Jawab: Semangat alhamdullilah skripsi tentang political tourism di Singapura, judulnya sendiri yaitu Peran Singapore Tourism Board (STB) dalam Implementasi Kebijakan BOOST (Building On Opportunities To Strengthen Tourism) untuk Mengatasi Dampak Krisis Finansial Global Terhadap Sektor Pariwisata Tahun 2008-2011.

3.)    Untuk bisa lulus 3.5 tahun, Kak Adi emang udah rencanain dari lama apa gimana? Kenapa dari Ilmu Politik 2011 yang bisa cuma Kak Adi sama Kak Bening?
Jawab: Sebetulnya ada 4 orang mahasiswa ilmu politik angkatan 2011 yang lulus 3,5 tahun.  Kelas paralel ada 3 orang (Adi, Bening dan Reza). Sedangkan untuk kelas reguler ada 1 orang, yaitu Febri. Adi sendiri memang sudah merencanakan untuk dapat lulus 3,5 tahun sejak awal masuk perkuliahan di Ilmu Politik UI.

4.)      Ada hambatan atau kesulitan ngga Kak pas bikin skripsi/TKA itu?
Jawab: Pasti ada atuh, baik yang bersifat internal atau berasal dari diri sendiri seperti rasa malas dan pernah mengalami depresi sampai harus konsultasi dan berobat (ke dokter kejiwaan dan ustad).  Sedangkan eksternalnya lebih disebabkan oleh keterbatasan data-data yang dibutuhkan pada saat penulisan skripsi, karena Singapura itu negaranya tidak terlalu terbuka tentang masalah politik. Tapi Alhamdullilah berkat arahan pembimbing skripsi Mas Cecep Hidayat dan bantuan dari Mr. Michele Wooi selaku Head Director Singapore Tourism Board (STB) Representative di Jakarta, permasalahan keterbatasan data untuk skripsi dapat diatasi.

5.)      Kan Kak Adi terkenal pinter banget nih ya, hehe. Kak Adi kalo belajar kayak gimana sih?
Jawab: Sebetulnya pintar itu relatif, karena biasanya individu itu ahli di satu bidang atau isu tertentu, tapi belum tentu dibidang atau isu lain dan setiap individu itu pasti memiliki potensi luar biasa dalam dirinya masing-masing. Begitupun dengan sahabat-sahabat politik 2011 yang lain, sebetulnya banyak yang lebih pintar dan punya spesialisasi isu politik masing-masing. Sebagai contoh Mas Dicky (Pol’11) yang concern banget di bidang politik buruh. Kemudian Om Piebo (pol’11) dibidang ekonomi politik. Ada juga Bang Ozy (Pol’11) dan Lutfhi (Pol’11) yang bacaan bukunya dibidang pemikiran politik banyak sekali, serta teman-teman politik lainnya. Jadi nampaknya, kalau pinter banget Adi pribadi melihatnya kurang tepat, mungkin sedikit rajin dibandingkan sahabat-sahabat yang lain. Sedangkan untuk jadwal belajar sendiri biasanya Adi dibalik waktunya. Pada saat orang lain tidur, biasanya Adi bangun untuk sekedar membaca bahan perkuliahan atau mengerjakan tugas.  Contohnya, setelah isya biasanya udah tidur dan bangun tengah malam, terus baca atau mengerjakan tugas sampai subuh atau kalau nanggung bisa sampai kaga tidur sampe pagi.  Tapi itu aktivitas tersebut juga enggak setiap hari, terkadang  full tidur kalau capek capek banget mah.

6.)    Punya kebiasaan yang menurut Kak Adi bermanfaat dan mendukung keberhasilan kakak?
Jawab: Jadi Adi teh punya kebiasaan pelupa parah, kata ibu sih karena dulu pernah demam tinggi (step gitu istilah nya the) dan pernah sempet lumpuh dan gak lancar bicara (gagap), tapi alhamdulliah sembuh. Namun efek lainnya yaitu lupaan. Nah untuk mengatasi itu, setelah bisa baca dan nulis, sekitar usia SD ibu suka bikin buku catatan kecil yang disimpen dalem tas yang isinya informasi-infromasi remeh temeh, seperti catatan tempat nyimpen kunci rumah (karena Ibu dan Ayah kerja, rumah suka dikunci), lokasi uang bekel ngaji, atau berbagai hal sederhana, seperti instruksi atau perintah yang diberikan dan harus dikerjakan, contohnya barang yang harus dibeli kalau disuruh ke warung, cabut colokan TV kalau udah nonton dan sebagainya. Mungkin itu dilakukan Ibu untuk mempermudah aktivitas adi waktu masa itu kali yah.  Ternyata tanpa disadari, solusi untuk mengatasi kekurangan sebagai pelupa  karena pernah sakit pas masa muda menjadi kebiasaan sampai SMA bahkan kuliah. Sehingga adi biasa bikin semacam list/schedule yang harus dilakukan atau alur kerja untuk membuat jadwal aktivitas supaya dapat berjalan sistematis setiap hari dan tidak ada yang terlupakan. Mungkin kebiasan membuat jadwal atau aktivitas harian dan membuat target/skala prioritas pada setiap kegiatan yang akan dilakukan itu nampaknya jadi salah satu faktor pendukung keberhasilan dalam melakukan berbagai aktivitas, sehingga berbagai aktivitas dapat tersusun, tberjalan dengan baik dan target-targetnya tercapai.

7.) Punya sosok panutan ngga kak? (Misalnya senior, temen seangkatan, atau politisi) dan kenapa Kak Adi kagum sama dia?
Jawab:  Sosok panutan lumayan banyak, mulai dari lingkungan keluarga seperti Ibu dan Ayah, tokoh politik lokal Kang Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta, tokoh politik nasional seperti KH. Agus Salim, sampai tokoh politik barat yang cukup adi kagumi yaitu Machiavelli yang nulis buku Sang Penguasa atau Il Prince, hingga tokoh mitos masyarakat Sundapun jadi panutan yaitu Kanjeng Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja. Hehehhee

8.)      Kak Adi dapet info-info lomba gitu biasanya dari mana kak? (Website atau apa)
Jawab: Salah satu dosen politik pernah bilang, relasi itu dapat mengantarkan kamu ke dalam berbagai hal di dunia ini.  Nah, begitupun dengan info-info lomba atau confrence dan acara lainnya, biasanya diperolehnya dari relasi yang dimiliki mulai dari temen, dosen hingga kenalan di luar pada saat magang atau ikut kepanitiaan pada suatu acara. Pokonya mah kuncinya, banyak temen, benyak relasi, benyak informasi dan inshallah bakal buka banyak pintu rejeki. *apasih

9.)      Kalo pengen lanjut S2, ke negara mana pengennya? Di Indonesia/diluar? Dan kenapa?
Jawab: Insyallah pengenya lanjut S2 di Inggris atau Amerika, atau beberapa negara Eropa atau deket-deket Singapura-lah. Alasanya kalau Inggris biar bisa sekalin nonton bola, kali aja bisa nonton Manchester United. Kalau Amerika, karena banyak kantor institusi internasional seperti PBB dan sebagainya, sepertinya keren aja bisa sekali-sekali berkunjung ke sana. Sedangkan Singapura, karena dekat dengan Indonesia (Ke-Purwakarta aja cuman sekitar 6-8 jam), kalau homesick bisa pulang hehehehe. Becanda atuh. 
Alasan sebetulnya lebih karena kualitas pendidikan negara-negara tersebut dalam membahas atau melakukan kajian terhadap isu yang sesuai dengan minat adi yaitu political tourism, yang mana berdasarkan observasi kecil-kecilan negara-negara tersebut cukup bagus dalam mengelola sektor pariwisatanya. Inginnya ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama studi di salah satu negara di atas dapat diimplementasikan di kota kelahiran kabupaten Purwakarta. Aminnn.

10.)  Dukungan temen terdekat signifikan ngga sih kak untuk bikin kakak bisa jadi yang kayak sekarang? Dalam bentuk apa biasanya dukungan mereka?
Jawab: Kalau adi ngerasanya signifikan banget sih, bahkan cita-cita adi pun lahir karena dikenalkan oleh teman-teman terdekat. Dukungan yang diberikan banyak banget, mulai dari sebagai tempat berkeluh kesah pada saat mumet tugas kuliah atau masalah pribadi, berbagi cita-cita dan harapan dimasa depan. Sampai seringkali memperoleh dukungan finansial dari sahabat-sahabat terdekat untuk kondisi tertentu. 

11.)  Ada pesen-pesen buat anak-anak 2012 yang pengen bisa lulus 3,5 tahun juga kayak Kak Adi? Kira-kira apa nih kak yang harus saya dan temen-temen saya lakuin di semester 6 ini?
Jawab: Pertama, tentukan tema atau isu yang benar-benar sahabat politik khususnya angkatan 2012 suka, karena mengerjakan tugas akhir (TA), seperti skripsi, TKA ataupun jurnal memerlukan keselarasan jasmani dan rohani.  Apabila hati saja sudah tidak tertarik atau asal-asalan memilih tema, bagaimana mau menggerakan jasmani seperti tangan untuk mengetik, kaki untuk berjalan ke perpus nyari bahan dan mata untuk membaca, wong tema skripsinya aja kita gak tertarik benar. Kedua, banyak membaca artikel baik jurnal, berita, buku, skripsi, tesis dan sumber-sumber referensi lainnya yang memiliki korelasi dengan tema yang kita minati. Hal ini untuk mempermudah dalam proses pengerjaan skripsi.  Ketiga, iseng-iseng aja bikin review dari bahan yang dibaca dan coba iseng-iseng tulis skripsi sesuka hati kalian, sesuai dengan yang ada dipikiran.  Salah benarnya mah gimana nanti, nyicil-nyicil dulu aja.

12.)  Kalo lagi punya waktu luang, Kak Adi biasanya ngapain?
Jawab: Biasanya diisi dengan aktivitas menyenangkan diri sendiri (me time-lah bahasa keceh-nya mah), seperti baca, bikin acara kumpul-kumpul bareng temen, tetangga dan keluarga, local travelling atau yang lebih sering sepedahan ke pelosok-pelosok desa atau perbatasan-perbatasan kabupaten.  Intinya refreshing dan sharing itu penting banget, biar ga stress dan buat hal-hal yang kita lakukan itu happy!

13.)  Pernah nggak sih kak ngerasain, pas kita kepengen 'maju', kita berusaha semaksimal mungkin... eh tapi orang-orang disekitar malah ngetawain dan ngeremehin gitu. Bikin kita jadi down dan nggak pede... Kalo ada di kondisi kayak gitu, apa yang lo lakuin kak?
Jawab: pernah atuh, tapi setiap orang punya caranya sendiri untuk mengatasinya. Cara paling simple sih yah jangan didengarkan, biarkanlah cibiran itu berlalu dan fokus pada usaha kita untuk maju.  Kalau adi sendiri sih selalu inget aja nasehat ayah: “Jalma Nangtung ku Elmuna, Dampal Ngampar ku Amalna”.  Maksudnya kurang lebih bahwa penentu kesuksesan seseorang itu dari ilmu dan amal yang dilakukanya dan kedua hal tersebut harus selaras, jadi cibiran itu gak termasuk dalam kategorisasi yang telah disebutkan di atas, maka dari itu abaikan sajalah dan justru harus menjadi pemacu semangat dalam diri. Fokus saja pada kerja keras mencari ilmu dan berbagi atau beramal kepada yang membutuhkan. Insyallah berkah salamet semangat.

Demikianlah transkrip wawancara dengan Adkesma HMIP UI.  Poinnya adalah bahwa setiap orang, memiliki potensi luar biasa dalam dirinya dan adalah suatu kewajiban untuk mengetahui, mengasah potensi tersebut sehingga memberikan manfaat positif untuk diri.  Selain itu, penting pula untuk menemukan cara yang tepat dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirimu dengan caramu sendiri dan selama kamu mnghendaki jangan ragu untuk berbagi dengan teman, sahabat, keluarga atau kekasih hati tentang berbagai hal yang terjadi padamu, hal menyenangkan atau menyedihkan, karena tanpa disadari besar atau kecilnya perhatian orang yang mendengarkan keluh kesah kita dapat membantu mengembangkan diri dan tidak jarang dari hasil sharing dapat ditemukan solusi terhadap persoalan yang sedang dihadapi.  
Satu hal yang perlu diingat, bahwa berambisi mengembangkan potensi dengan belajar keras, aktif berorganisasi atau kepanitiaan dan sebagainya adalah hal yang baik, tapi jangan lupa meluangkan sedikit waktu untuk menghibur diri dengan aktivitas yang digemari, refreshing atau me time-lah bahasa kekiniannya mah.  Sedikit catatan, jangan malu dan ragu terhadap kekurangan yang ada dalam diri selama kamu bisa menemukan solusinya, tanpa disadari kadang hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilannmu. Abaikan cemoohan dan fokus pada proses kerja keras untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita. Setidaknya potensi yang dimiliki dapat bermanfaat untuk dirimu sendiri dan orang-orang terdekeat yang kamu cintai. Semangat atuh semangat semangat.