Sabtu, 06 Oktober 2012

Kerajaan Tradisional Asia Tenggara Pra-kolonial: Agraris dan Maritim


Oleh Alpiadi Prawiraningrat

Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan kuno di dunia.  Hal ini berdasarkan pada banyak ditemukannya fosil-fosil manusia jaman pra-sejarah di berbagai wilayah Asia Tenggara, khususnya di Indonesia.[1]
Sebagai makhluk yang belum memiliki peradaban, awalnya  mereka hidup dengan berburu binatang liar serta hidup berpindah-pindah (nomaden).  Namun, bersamaan dengan semakin berkembangnya generasi, mereka mulai memikirkan suatu pola hidup yang baru. Dan mulailah mereka menetap yang kemudian berkembang dari sistem perburuan menjadi pertanian, walaupun pada mulanya perburuan tetap mereka pertahankan. Namun sejalan dengan perkembangannya, mereka mulai menemukan bagaimana sistem bercocok tanam yang baik serta cara lain dalam mengumpulkan bahan makanan.
Sekitar abad ke-5 SM, penduduk dari daerah Dongson (sekarang termasuk wilayah Vietnam), telah mampu menguasai keterampilan dasar pengolahan logam. Hasil kebudayaan logam mereka adalah yang paling tua yang telah ditemukan oleh para arkeolog di Asia Tenggara.[2]  Pada sekitar tahun 2,500 SM, bangsa Melayu mulai menyebar di wilayah semenanjung dan memperkenalkan teknologi primitif pengerjaan logam yang telah mereka kuasai di wilayah ini.  Sekitar tahun 1,500 SM, bangsa Mon mulai memasuki wilayah Burma, sedangkan bangsa Tai datang lebih belakangan dari daerah selatan Tiongkok ke daratan Asia Tenggara untuk kemudian menempatinya pada sekitar milenium pertama Masehi.
Semakin bertambahnya jumlah penduduk menuntut adanya suatu sistem untuk dapat mengatur keberlangsungan hidup mereka, sehingga mulailah berdiri kerajaan-kerajaan tradisionl pada saat itu.  Pada umumnya, kategorisasi kerajaan tradisional di Asia Tenggara terbagi dua, yaitu kerajaan-kerajaan agraris dan kerajaan-kerajaan maritim.  Kegiatan utama kerajaan-kerajaan agraris adalah pertanian dan banyak tersebar di semenanjung Asia Tenggara.  Contoh kerajaan agraris adalah kerajaan Angkor dam kerajaan Funan.  Sedangkan untuk kerajaan-kerajaan maritim kegiatan utamanya adalah perdagangan melalui laut. Kerajaan Champa, kerajaan Chih Tu, kerajaan Srivijaya (dikenal Sriwijaya), kerajaan Kejah Tua, kerajaan Majapahit adalah contoh dari kerajaan maritim.
Baik kerajaan agraris maupun maritim memiliki ciri-ciri yang berbeda, tabel berikut menjelaskan perbedaan antara kerajaan agraris dan Maritim.
Tabel 1
Ciri-ciri kerajaan Agraris dan Maritim di Asia Tenggara
Ciri
Agraria
Maritim
Lokasi[3]
·      Terletak di kawasan pedalaman dekat lembangan sungai yang mempunyai tanah yang subur.
·         Terletak di pesisiran pantai.
Otoritas Raja
·         Dewa Raja, menyamakan kedudukan raja dengan dewa-dewa.
·         Mandat Surga, konsep dari Cina yang menganggap kerajaan yang sesungguhnya hanya ada di surga, tetapi tetap yang melaksananakannya adalah orang-orang di dunia.[4] Setiap orang boleh mencoba keberuntungannya dengan pemberontakan jika dia sangat mengharapkan menjadi kaisar. Apabila pemberontakannya gagal, kemudian yang membuat suatu percobaan dengan jelas tidak memiliki “mandat dari surga” dan biasanya mereka dieksekusi.[5]
·         Ngelmu,
·       Daulat Tuanku,  ekspresi tertinggi tentang kualitas raja, dan kepemilikannya oleh seorang raja merupakan pengabsahan keilahian atas kekuasaannya.[6]  Konsep daulat dalam kehidupan hubungan timbal-balik antara raja dengan rakyat; berkembang selaras dengan konsep durhaka.  [7]Karena durhaka pada Raja dipandang sebagai salah satu dosa besar, akan membawa pelakunya ke dalam kerusakan, kebinasaan dan kenistaan.akyat tidak boleh durhaka kepada Sultan, karena mereka telah mengikat janji setia dengan raja sebagai penggembala rakyatnya.[8]
Kegiatan Ekonomi[9]
·         Kegiatan ekonomi yang utama adalah pertanian (Ubi taro, padi sawah dan padi huma).
·      Perdagangan
·      Membuat Kapal
·      Menjalankan Perikanan
Birokrasi[10]
·         Profesional ala Mandarin.
·       Sederhana:
Raja;  Raja Muda/Putera Mahkota; Panglima angkatan bersenjata;  syahbandar; bendahara.
Asas[11]
·      Mempunyai sistem pengairan dan empangan.
·         Mempunyai pelabuhan yang menyediakan berbagai kemudahan.
·         Berwujud pelabuhan entrepot (menjalankan kegiatan mengumpul dan mengedar).
·         Barang dagangan yang dikumpul termasuk hasil hutan, rempah ratus, obat-obatan, gaharu, cendana dan dammar.
·         Pedagang asing dari Eropa, Arab, India dan Cina.
Masyarakat
·      Membina empangan dan saluran perairan.
·         Mahir membuat kapal.
·         Menguasai ilmu pelayaran.
·         Mampu berlayar hingga Afrika Timur.
Sumber:  Diperoleh dari berbagai sumber
Dari tabel di atas dapat kita lihat berbagai perbedaan karakteristik antara kerajaan tradisional agraris dan kerajaan maritim di Asia Tenggara.  Berkaitan dengan agama, sebelum abad ke-13, agama Buddha dan Hindu adalah kepercayaan utama di Asia Tenggara sehingga kerajaan-kerajaan di daratan (semenanjung) Asia Tenggara pada umumnya memeluk agama Buddha, sedangkan kerajaan-kerajaan di kepulauan Melayu (Nusantara) umumnya lebih dipengaruhi agama Hindu.[12]  Beberapa kerajaan yang berkembang di semenanjung ini, awalnya bermula di daerah yang sekarang menjadi negara-negara Myanmar, Kamboja dan Vietnam.
Berkaitan dengan kontrol pusat terhadap daerah.  Kerajaan agraris melakukanya dengan tiga cara, yaitu: (1) Perkawinan, mempersunting wanita yang berasal dari suatu wilayah tertentu untuk kemudian dijadikan istri selir;  (2) Magang di keraton; dan (3) kekerasan, dengan melakukan penaklukan atau perang. 
Sedangkan untuk struktur sosial, antara kerajaan agraris dan maritim hnay berbeda pada tingkatan ketiga.  Di mana untuk kerajaan agraris dalam rakyat terdapat petani.  Sedangkan untuk negara maritim pada rakyat bermayoritas pedagang.
Telah dibahas sebelumnya bahwa kerajaan tradisional di Asia Tenggara terkategorisasi menjadi kerajaan Agraris dan Maritim.  Berkaitan dengan kerajaan Agraris, D.G. E. Hall menjelaskan bahwa Funan adalah Kerajaan terawal di Asia Tenggara yang di asaskan pada abad 1 M.  Pusat kerajaan  sendiri terletak di Vyadhapura.  Untuk mengari pertanian, kerajaan Funan telah memiliki saluran dan takungan air yang diperoleh dari sungai Mekong dan persisiran pantai. Selain sebagai sumber air, sungai Mekong menjadi jalan penghubung dalam perdagangan hasil pertanian.  Raja pertama kerajaan ini adalah Kaundinya bergelar Kurung Bnam yang artinya artinya adalah Raja Gunung, Gunung suci yang menjadi symbol raja.  Jenderal agung ialah Fan Shih-Man. Meskipun kerajaan agraris, kerjaan Funan memiliki pelabuhan utama yaitu Oc-Eo.[13]
Selanjutnya yang masih termasuk kerajaan agraris adalah kerajaan Angkor yang merupakan kerajaan agraria yang kuat dan agung yang terletak di Lembah Sungai Mekong. Sistem pemerintahan berbentuk raja yang mempunyai kuasa mutlak dan dianggap sebagai Devaraja (wakil tuhan untuk memimpin manusia) yang mana dibantu oleh kerabatnya untuk menjalankan pemerintahan.   Zaman kegemilangannya ketika Suryavarman II.  Agama Hindu-Buddha merupakan agama utama, hal tersebut dibuktikan dengan adanya Angkor Wat.   Faktor utama yang menjadi mendukung  Angkor menjadi sebuah kerajaan agraria yang kuat ialah kedudukannya yang berhampiran dengan Tasik Tonle Sap. Air Tasik Tonle Sap ini datang dari Sungai Mekong dan sangat penting untuk masyarakat, karena:  (1) Sebagai sumber air minuman. (2) Memiliki endapan lumpur yang subur pada musim kemarau.  (3). Sumber makana seperti ikan kepada penduduk sekitar. (4) Sebagai sumber utama dalam pengairan sawah.[14]
Berkaitan dengan kerajaan maritim.  Nama kerajaan Sriwijaya di Sumatera muncul sebagai kekuasaan dominan yang pertama kali muncul di kepulauan.[15]  Di mana raja berkuasa mutlak dan berdasarkan catatan Arab, raja dianggap sebagai Raja di Gunung dan Maharaja di Pulau, serta menteri adalah perantara antara raja dengan rakyat.[16]  Berdasarkan prasasti Batu bersurat bertarikh 683 M, di Telaga Batu menyatakan bahwa dari abad ke-5 Masehi, Palembang sebagai ibukota Sriwijaya menjadi pelabuhan besar dan berfungsi sebagai pelabuhan persinggahan (entrepot) pada jalur rempah-rempah (spice route) yang menjalin kerjasama dengan India dan Tiongkok.[17] Sriwijaya juga merupakan pusat pendidikan agama Buddha yang cukup berpengaruh. Komoditi utama Sriwijaya adalah damar, cendana, kapur barus, kemenyan dan lada hitam.  Namun, kemajuan teknologi kelautan pada abad ke-10 M membuat pengaruh dan kemakmuran Sriwijaya memudar karena menjadikan para pedagang Tiongkok dan India dapat secara langsung mengirimkan barang-barang, serta membuat kerajaan Chola di India Selatan dapat melakukan serangkaian penyerangan penghancuran terhadap daerah-daerah kekuasaan Sriwijaya.
Sebelumnya, sekitar kurun waktu abad ke-5, munculah kerajaan di semenanjung Tanah Melayu, yaitu kerajaan Kedah Tua atau dikenal juga sebagai Kataha yang dalam catatan I-Ching disebut Cheah-Cha.  Pada mulanya pelabuhan utamanya terletak di Sungai Mas namun berpindah ke Lembah Bujang.  Di mana pelabuhan Kedah Tua menjadi pusat pertukaran barang-barang  dan tempat persinggahan pelayar dari Arab, Persia, India dan Sri Lanka.  Komoditi utamanya adalah beras, emas, bijih timah, lada hitam. Sangat dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, buktinya adalah candi di Lembah Bujang.  Kegemilangan Kedah Tua, dibuktikan dengan: (1) penemuan uang perak semasa pemerintahan Sultan al-Mutawakil (tahun 847 – 861 M); (2) Manik dari India; dan (3) Barang dari kaca dari Timur Tengah. [18]
Kerajaan maritim terakhir adalah Majapahit.  Didirikan Raden Wijaya yang menerima pengaruh Hindu-Buddha. Pemerintahan Kerajaan Majapahit berdasarkan atas undang-undang manu yaitu sumber tertulis yang menjelaskan peranan hakim terhadap masyarakat.[19]  Raja dibantu oleh Perdana Menteri dan empat orang menteri.  Sama seperti kerajaan lainnya, Majapahit juga mengamalkan konsep Devaraja.  Zaman kegemilangan kerajaan Majapahit semasa Hayam Wuruk (Raja Senagara) dan Perdana Menterinya Patih Gajah Mada. Majapahit merupakan tempat perdagangan yang utama pada abad ke-15 M. Pedagang yang berkunjung ke Majapahit mayoritas berasal dari Asia Tenggara, China, India dan Timur Tengah.  Pelabuhan utamanya adalah Kataha dan Temasik.
Daftar Pustaka
Sumber Buku:
Hall, D. G. E. (1988).  Sejarah Asia Tenggara. Surabaya. Usaha Nasional.
Bellwood, Peter.  (2000).  Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia.  Jakarta: PT Gramedia     Pustaka Utama.
Grosiler, Bernard Philippe.  (2007).  Indocina Persilangan Kebudayaan.  Jakarta:    Kepustakaan Populer Gramedia.
Moy, TJ.  (tanpa tahun).   The Sejarah Melayu Tradition of Power and Political Order.
Omar, Arifin.  (tanpa tahun).  Bangsa Melayu: Malay Concepts of Democracy and             Community.
Sumber Internet:
Frutician, Nifa. Tamadun Awal Asia Tenggara. http://www.slideshare.net/Nipafrutican/bab          3-tamadun-awal-asia-tenggara.  Di akses pada senin, 22 Oktober 2012; pukul 02.15  WIB.
Raju, Megala Silva.  Tamadun Awal Asia Tenggara: Penempatan Awal Asia Tenggara.            http://www.slideshare.net/MeenuMegala/bab3-13022371. Di akses pada Selasa,                 23 Oktober 2012; pukul 23.15 WIB.
Rizki, M. S. Asia Tenggara sebagai Kesatuan Wilayah.        http://msrizqi.blogspot.com/2009/03/asia-tenggara-sebagai-kesatuan-wilayah.html. Di     akses pada senin, 22 Oktober 2012; pukul 01. 40 WIB.
------http://sejarahmgcm.files.wordpress.com/2009/07/bab3.pdf. Di akses pada senin, 22 Oktober 2012; pukul 01. 23 WIB.
-------http://indonesiaindonesia.com/f/98105-asia-tenggara-sejarah/. Di akses pada senin, 23           Oktober 2012; pukul 23.45 WIB.
--------http://www.scribd.com/doc/29223752/MAJAPAHIT-Kerajaan-Agraris-Maritim-di  Nusantara. Di akses pada Selasa, 23 Oktober 2012; pukul 23.45 WIB.



[1] Hall, D. G. E. (1988).  Sejarah Asia Tenggara. Surabaya. Usaha Nasional.
[2] Bernard Philippe Grosiler.  (2007).  Indocina Persilangan Kebudayaan.  Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

[3] http://sejarahmgcm.files.wordpress.com/2009/07/bab3.pdf. Di akses pada senin, 22 Oktober 2012; pukul 01. 23 WIB.
[4] Bernard Philippe Grosiler.  (2007).  Indocina Persilangan Kebudayaan.  Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
[5] Ibid,.
[6] Omar, Arifin.  (tanpa tahun).  Bangsa Melayu: Malay Concepts of Democracy and Community
[7] TJ Moy.  (tanpa tahun).   The Sejarah Melayu Tradition of Power and Political Order.
[8] Omar, Arifin.  (tanpa tahun).  Bangsa Melayu: Malay Concepts of Democracy and Community
[9] http://sejarahmgcm.files.wordpress.com/2009/07/bab3.pdf. Di akses pada senin, 22 Oktober 2012; pukul 01. 23 WIB.
[10] Cecep Hidayat.  (2012):  power point:  Kerajaan Tradisional Asia Tenggara Agraris dan Maritim. 
[11] http://sejarahmgcm.files.wordpress.com/2009/07/bab3.pdf. Di akses pada senin, 22 Oktober 2012; pukul 01. 23 WIB.
[12] M. S Rizki.  Asia Tenggara sebagai Kesatuan Wilayah.    http://msrizqi.blogspot.com/2009/03/asia-tenggara-sebagai-kesatuan-wilayah.html. Di akses pada senin, 22 Oktober 2012; pukul 01. 40 WIB.
[13] http://sejarahmgcm.files.wordpress.com/2009/07/bab3.pdf. Di akses pada senin, 22 Oktober 2012; pukul 01. 23 WIB.
[14] Nifa Frutician. Tamadun Awal Asia Tenggara.  http://www.slideshare.net/Nipafrutican/bab-3-tamadun-awal-asia-tenggara. Di akses pada senin, 22 Oktober 2012; pukul 02.15 WIB.
[15] Megala Silva Raju.  Tamadun Awal Asia Tenggara: Penempatan Awal Asia Tenggara. http://www.slideshare.net/MeenuMegala/bab3-13022371. Di akses pada selasa, 23 Oktober 2012; pukul 23.15 WIB.
[16] Ibid.,
[17] http://indonesiaindonesia.com/f/98105-asia-tenggara-sejarah/. Di akses pada senin, 23 Oktober 2012; pukul 23.45 WIB.
[18] http://sejarahmgcm.files.wordpress.com/2009/07/bab3.pdf. Di akses pada senin, 22 Oktober 2012; pukul 01. 23 WIB.
[19] http://www.scribd.com/doc/29223752/MAJAPAHIT-Kerajaan-Agraris-Maritim-di-Nusantara. Di akses pada Selasa, 23 Oktober 2012; pukul 23.45 WIB.

1 komentar: